Kamis, 12 Sep 2019 16:35 WIB

Updated

Studi: Anak yang Terpapar Asap Rokok Berisiko Kena Penyakit Gondok

Imam Suripto - detikHealth
dr Rasipin, peneliti dari Dinkes Brebes. (Foto: Imam Suripto/detikcom) dr Rasipin, peneliti dari Dinkes Brebes. (Foto: Imam Suripto/detikcom)
Jakarta - Sebuah penelitian oleh Dinas Kesehatan Brebes, Jawa Tengah, bersama Undip Semarang menyimpulkan, 88,7 persen anak yang menjadi subyek penelitian di Brebes terpapar asap rokok. Paparan akibat asap rokok ini beresiko menimbulkan gangguan kesehatan, yakni terkena penyakit pembesaran kelenjar tiroid atau gondok (goiter).

Penelitian tersebut mengambil sample 101 orang berusia anak dari Desa Dukuh Lo, Bulakparen dan Kluwut. Penelitian dilakukan oleh 4 orang masing masing Rasipin, Nurul Aeny dari Dinas Kesehatan Brebes bersama dua peneliti dari Fakultas Kedokteran Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro yaitu Suhartono dan Apoina Kartini.

Rasipin, dokter salah satu peneliti dari Dinas Kesehatan Brebes saat diwawancara wartawan di Kantor IDI, Kamis (12/10/2019) menyampaikan, penlitian ini didasari pada tingginya penderita gondok yang ada di tiga desa tersebut.

Tingginya kasus gondok ini dianggap menarik karena tiga desa sample itu bukanlah daerah dataran tinggi atau pegunungan yang minim garam iodium. Lokasi desa desa ini justru berada di pantura yang kaya garam iodium. Sehinģga, kata Rasipin perlu dicari faktor lain yang menyebabkan penyakit gondok.

"Kita tahu penderita gondok di wilayah kerja Puskesmas Kluwut cukup tinggi. Penelitian sebelumnya di dua SD disimpulkan, jumlah penderita gondok dari anak usia sekolah dasar sebanyak 68,59 persen. Bahkan ada satu SD yang sangat tinggi mencapai 97,75 persen," ungkap Rasipin.

Selain faktor kekurangan (defisiensi) iodium sebagai penyebab goiter, kata Rasipin perlu dikaji faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya goiter. Mengingat gangguan pada kelenjar tiroid tidak hanya karena kurang iodiun tapi dapat dipengaruhi pula oleh berbagai senyawa kimia.

"Kita teliti penyebab lain dari gondok. Karena daerah itu tidak kekurangan iodium. Apalagi gondok bisa melalui pestisida," tutur Rasipin.


Dari sample 101 anak ini kemudian diteliti sebab musabab terkena penyaki gondok. Hasil penelitian disimpulkan, mereka terkena gondok akibat terpapar asap rokok, asap obat nyamuk dan pestisida.

Jumlah terpapar pestisida angkanya 54,7 persen, dan beresiko terkena gondok 8,46 kali dibandingkan anak yang tidak terpapar pestisida. Anak yang terpapar asap obat nyamuk sekitar 79,2 persen dan beresiko terkena gondok 5,3 kali dibandingkan dengan anak yang tidak terpapar. Sedangkan terpapar asap rokok sebanyak 88,7 persen dengan resiko terkena gondok 3,9 kali dari anak tidak terpapar.

"Anak terpapar asap rokok paling banyak karena mereka berada di lingkungan perokok termasuk orang dekat dan tetangga sekitar rumah," tutur Rasipin.

Gangguan tiroid dapat dipengaruhi oleh asap rokok karena ada mekanisme asap mempengaruhi kadar hormon tiroid. Asap tembakau mengandung beberapa racun seperti tiosianat dan 2,3-hydroxypridine.

"Dua jenis racun ini terbukti menjadi potensi goitrogen. Tiosianat ini memiliki paruh waktu lebih enam hari menghambat transportasi iodium dan organifikasi serta meningkatkan penghabisan iodium dari kelenjar. Defisiensi iodium akibat tiosianat dapat menyebabkan gondok," papar Rasipin.


Sedangkan asap atau semprotan obat nyamuk mengandung empat jenis pestisida masing masing scourge, permathrin, anvil dan melathion. Racun ini dikenal memiliki dampak negatif terhadap fungsi hati dan kelenjar tiroid.

Sementara racun pestisida dapat menghambat proses pengikatan hormon tiroid oleh reseptor tiroid di dalam sel. Hambatan itu berdampak pada kurangnya kadar hormon tiroid.

Diwawancara terpisah, Mashadi, Anggota IPPHTI (Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia) mengaku, pencemaran akibat pestisida saat ini cukup mengkhawatirkan.

"Dulu sejak tahun 1990 an, IPPHTI melakukan penelitian bersama badan pangan dunia (FAO). Sampel yang diambil Kecamatan Larangan. Dalam satu tahun, sudah ada 10 ton pestisida yang dikucurkan dalam satu kecamatan," ungkap Mashadi.

Masuknya pestisida secara besar besaran tanpa adanya kebijakan, pengawasan dan kontrol yang ketat, maka korbannya adalah anak-anak. Selama ini mereka mengkonsumsi makanan yang belum tentu bebas dari pestisida, baik itu dari hasil produk pertanian atau produk lain.

"Harapan kami ke depan, dengan kondisi tersebut itu pemerintah atau pihak lain yang bertanggung jawab pada perlindungan anak bisa lebih konsen," harap Mashadi.

Dengan masuknya pestisida dengan jumlah luar biasa, secara tidak langsung berdampak pada kesehatan anak. Tanpa sadar, sudah meracuni mereka melalui pestisida.

Tidak adanya regulasi yang melindungi anak anak seperti UU secara tidak langsung hanya menguntungkan pihak pihak tertentu. Terutama pihak-pihak perusahaan dan distributor.

Simak Video "Awal Mula Hepatitis A di Depok yang Jangkiti Ratusan Orang"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)