Minggu, 15 Sep 2019 13:06 WIB

Kisah Pasutri Pelopor Peminjaman Inkubator Gratis di Bogor

Nabila Ulfa Jayanti - detikHealth
Pasangan Enny dan Lugi asal Jonggol yang menjadi pelopor peminjaman inkubator. Foto: Adelia Putri/detikHealth Pasangan Enny dan Lugi asal Jonggol yang menjadi pelopor peminjaman inkubator. Foto: Adelia Putri/detikHealth
Jakarta - Rumah di Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor itu tampak hampir sama dengan rumah-rumah di kawasan perumahan pada umumnya. Bedanya, dua buah plang bertuliskan 'Yayasan Roda Harapan Indonesia' dan 'pinjam inkubator gratis' menghiasi bagian luar rumah.

Adalah Bonaventura Zita Enny Wati dan Lukas Lugi Riyadi, pemilik rumah yang beralamat di Perumahan Citra Indah, Bukit Mahoni Luar Blok S.00 no. 78 tersebut. Pasangan suami istri ini mendedikasikan hidupnya sebagai relawan sosial yang meminjamkan inkubator, fototerapi, dan pelbagai alat kesehatan lainnya bagi mereka yang membutuhkan. Pasien pun bisa meminjam tanpa dibebankan biaya sepeserpun.


Semua bermula dari tahun 2015. Kala itu tetangga mereka yang seorang orangtua tunggal, harus melahirkan bayi secara prematur. Akibat kekurangan biaya, tetangga sekitar berinisiatif mengumpulkan dana. Lugi kemudian teringat sosok Prof Dr Ir Raldi Artono Koestoer DEA, Guru Besar Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia yang menjadi narasumber di acara Kick Andy. Prof Raldi merupakan pelopor layanan peminjaman inkubator gratis yang tersedia di seluruh Indonesia.

"Lalu suami browsing, dapat infonya, coba kirim SMS. Tapi waktu itu enggak berhasil. Berpulanglah sang bayi, tidak bisa pinjam inkubator. Tapi di informasi yang didapat itu kita juga bisa bergabung menjadi relawan peminjaman inkubator gratis," tutur Enny saat ditemui di rumahnya, Jumat (17/9/2019).

Inkubator gratis yang dipinjamkan.Inkubator gratis yang dipinjamkan. Foto: Adelia Putri/detikHealth

Di awal tahun 2015 itu, relawan yang akan meminjamkan inkubator gratis harus mengganti uang produksi inkubator sebesar sekitar Rp2,5 juta kepada Prof Raldi. Enny dan Lugi lantas mengumpulkan dana bersama teman-teman komunitasnya. Beberapa bulan kemudian setelah uang terkumpul, belakangan baru diketahui syarat bergabungnya adalah membayar produksi minimal 2 unit inkubator.

"Kami enggak putus asa, tetap nego ke Prof Raldi. 'Satu dulu ya... di Jonggol itu belum ada peminjaman inkubator gratis.'," kenang Enny.

Sebuah inkubator mengawali perjalanan Enny dan Lugi untuk memberi bantuan kepada bayi prematur yang lahir di keluarga kurang mampu dan juga bayi prematur yang kehabisan stok inkubator dari rumah sakit.

Kini, mereka sudah membentuk yayasan bernama Yayasan Roda Harapan Indonesia. Naik turun desa untuk mengantarkan alat kesehatan pun bukan masalah, meski belum mempunyai kendaraan operasional. Sekarang mereka sudah mempunyai total 11 inkubator, 4 unit fototerapi, serta beberapa kursi roda, tabung oksigen, dan alat bantu berjalan yang dananya dihimpun bersama-sama kawannya.



Simak Video "Kisah Pasangan Suami-Istri Abdikan Hidup Jadi Relawan Inkubator"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/wdw)