Rabu, 25 Sep 2019 08:48 WIB

Mengenal Colok Dubur, Teknik Deteksi Dini Kanker Prostat

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Ilustrasi colok dubur. Foto: iStock Ilustrasi colok dubur. Foto: iStock
Jakarta - Data GLOBOCAN 2018 mencatat dari sebanyak 18,1 juta kasus kanker baru di dunia, 48,4 persen berada di benua Asia. Dengan Indonesia sebagai penduduk terpadat terbanyak nomor tiga di dunia, tentu kasus tersebut terjadi dalam jumlah lebih banyak.

Salah satunya adalah kanker prostat, yang menjadi kanker nomer tiga tertinggi diidap oleh pria di Indonesia. Kanker ini muncul di kelenjar prostat, dan seperti hampir semua kanker, penyebabnya belum diketahui.

"Kebanyakan pasien (kanker prostat) datang sudah dalam stadium 3 atau 4. Oleh karena itu deteksi dini dan screening yang rutin sangat penting," kata Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof Dr dr Aru Wicaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASM, FACP, saat ditemui dalam acara Fight For Your Man: Pentingnya Deteksi Dini Kanker Prostat, Selasa (24/9/2019).

Deteksi dini sangat penting, lanjutnya, karena kanker prostat memerlukan waktu kurang lebih 20 tahun sampai berkembang menjadi tumor kanker. Sehingga bisa jadi jika faktor risiko tak dikendalikan sejak usia muda, kanker prostat bisa muncul dan memburuk saat tua nanti.

Beberapa faktor risiko dari kanker prostat antara lain usia, ras, riwayat keluarga kanker prostat, hormon, polimorfisme genetik, obesitas, menu barat (junk food atau fast food), kurang paparan sinar matahari, dan diet atau makanan sehari-hari.



Deteksi dini kanker prostat umumnya dilakukan dengan dua cara, yakni digital rectal exam atau lebih dikenal dengan colok dubur serta tes prostate-specific atnigen (PSA). Dalam tes colok dubur, biasanya dokter akan mencari apabila ada pembesaran di kelenjar prostat yang terletak dekat dengan anus, jika ditemukan maka akan dilakukan trs biopsi untuk menentukan apakah itu tumor kanker atau bukan.

Demikian halnya pada tes PSA, apabila angka yang ditemukan tinggi, maka dokter akan menganjurkan biopsi. Di sisi lain, dr Aru mengatakan kedua deteksi dini tersebut memiliki kontroversi karena bisa menimbulkan beberapa dampak seperti overdiagnosis ataupun overtreatment, karena ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi naiknya angka PSA, seperti gowes terlalu lama.

Deteksi dini PSA tidak dianjurkan pada pria berusia di bawah 40 tahun. Yang sangat dianjurkan adalah usia 55-69 tahun ke atas karena pada rentang usia tersebut risiko kanker prostat meningkat. dr Aru juga berharap para pria semakin aware dan tidak malu untuk memeriksakan diri.

"Laki-laki itu paling nggak bisa disuruh check-up kecuali disabet-sabetin sama istri masing-masing dan tidak mau mengakui kalau dia sakit. Jadi di samping itu, program registrasi kanker memang diutamakan pada penyakit yang lebih mudah ditangani," tandas dr Aru.



Simak Video "Panjang Penis Bisa Berubah Pasca Operasi Prostat?"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)