Rabu, 02 Okt 2019 19:25 WIB

Di Indonesia, Skizofrenia Seperti Joker Banyak yang Dipasung

Michelle Natasya - detikHealth
Joker digambarkan sebagai penjahat dengan gangguan jiwa skizofrenia (Foto: Dok. Warner Bros) Joker digambarkan sebagai penjahat dengan gangguan jiwa skizofrenia (Foto: Dok. Warner Bros)
Jakarta - Pecinta DC Comics boleh berbahagia sebab film Joker rilis perdana di Indonesia hari ini, Rabu (2/10/2019). Film ini menceritakan kisah pilu di balik kejahatan keji yang dilakukan oleh musuh Batman, Joker.

Diceritakan perjalanan hidup sosok fiksi Arthur Fleck yang mengalami mental breakdown akibat ketidakadilan lingkungan sekitar. Joker dikenal sebagai tokoh penjahat yang memiliki gangguan mental, salah satunya skizofrenia.

Menurut Human Rights Watch data tahun 2018, terdapat 12 ribu pasien penderita gangguan mental di Indonesia yang dipasung. Angka ini dinilai cukup besar mengingat pemasungan bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan pelanggaran hak.



Ghianina Yasira Armand, BSc Psychology, MSc Child Development, seorang ahli psikologi terapan di Personal Growth, mengatakan bahwa skizofrenia tidak dapat disembuhkan. Oleh sebab itu, penderita skizofrenia memerlukan dukungan sosial dari keluarga dan teman, bukan malah dipasung.

"Dukungan sosial dari keluarga dan teman yang dibutuhkan seperti mencarikan bantuan profesional, mengingatkan untuk meminum obat sesuai yang ditentukan, menemani untuk datang ke psikiater atau psikolog, mengajak dan membujuk mereka untuk bersosialisasi dan melakukan aktivitas," pungkasnya.

Untung Joker tidak tinggal di Indonesia, ya. Bisa-bisa tokoh penjahat ini dipasung juga.



Simak Video "Respons BPJS Kesehatan yang Disomasi Gara-gara 'Pakai' Joker"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)