Rabu, 09 Okt 2019 16:12 WIB

Kenali Faktor Risiko Penyakit Autoimun Seperti yang Diidap Ashanty

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Kenali faktor risiko yang mempengaruhi penyakit autoimun yang diidap Ashanty. Foto: Palevi/detikHOT Kenali faktor risiko yang mempengaruhi penyakit autoimun yang diidap Ashanty. Foto: Palevi/detikHOT
Jakarta - Ashanty mendapatkan kabar yang mengejutkan saat menemani suaminya, Anang Hermansyah, check-up ke RSPAD Gatot Subroto. Melalui akun Instagramnya, Ashanty mengungkapkan bahwa ia didiagnosis menderita penyakit autoimun. Ia termasuk ke dalam deretan artis yang juga mengidap penyakit autoimun, selain Raditya Dika pada beberapa waktu lalu.

Ashanty bercerita dirinya sering merasakan sakit kepala, sulit tidur, kepala, belakangan suka menjadi pelupa, suka cemas, mudah stres, dan terlalu banyak pikiran. Ia mengaku sempat merasa takut setelah mencari tahu soal penyakit tersebut.

Penyakit autoimun adalah kondisi sistem kekebalan tubuh seseorang yang menyerang tubuhnya sendiri. Penyakit autoimun ini bisa hanya menyerang salah satu organ tubuh saja. Tetapi, terkadang autoimun ini juga dapat menyerang seluruh bagian tubuh. Penyakit autoimun bisa terjadi pada siapa saja, terutama kaum wanita.

Dikutip dari Medical News Today, ada beberapa faktor tertentu yang meningkatkan risiko mengidap penyakit autoimun.



1. Genetik

Salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan seseorang mengidap penyakit autoimun adalah karena faktor genetik. Penelitian menunjukkan bahwa riwayat keluarga merupakan faktor pendukung terkuat untuk penyakit ini. Jika di antara keluarga ada yang mengidapnya, dengan mudah orang tersebut dapat mengidap penyakit autoimun juga.

2. Kelebihan berat badan

Kelebihan berat badan atau obesitas juga dapat meningkatkan risiko terkena penyakit autoimun, yaitu rheumatoid arthritis atau radang sendi psoriatik. Ini terjadi karena berat badan yang lebih banyak dapat memberi tekanan yang lebih besar pada persendian atau jaringan lemak yang membuat zat yang mendukung peradangan.

3. Merokok

Tidak hanya menyebabkan penyakit jantung dan paru-paru, merokok juga dapat berisiko lebih tinggi terhadap sejumlah penyakit autoimun. Penyakit autoimun yang dimaksud antara lain, lupus, rheumatoid arthritis, dan hipertiroidisme.

4. Jenis kelamin

Jenis kelamin seseorang juga disebutkan menjadi faktor yang berperan aktif terhadap penyakit autoimun. Kaum wanita cenderung memiliki risiko yang lebih besar terkena autoimun dibandingkan laki-laki. Menurut studi tahun 2014, wanita disebutkan 6,4 persen lebih banyak berisiko terkena penyakit autoimun. Alasannya belum diketahui secara pasti, namun faktor hormonal atau fakta bahwa wanita memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat bisa menjadi faktor risikonya.

5. Infeksi

Jika seseorang memiliki kecenderungan genetik atau turunan yang sensitif terhadap infeksi virus atau bakteri tertentu, dapat berisiko lebih besar terhadap penyakit autoimun yang meningkat. Meskipun alasan di balik risiko ini belum jelas, namun para peneliti terus meneliti peran infeksi yang dapat memengaruhi sistem kekebalan atau menjadi penyebab autoimun.

6. Usia

Tidak hanya jenis kelamin, usia juga dapat meningkatkan risiko seseorang terserang penyakit autoimun. Sebagian besar gangguan autoimun didiagnosis pada orang yang lebih muda dan setengah baya. Meskipun demikian, penyakit berbeda dan kelainan autoimun lainnya seperti rheumatoid arthritis lebih sering terjadi seiring bertambahnya usia seseorang.

Tidak hanya faktor risiko, kenali juga gejala awal dari penyakit autoimun sebagai berikut:

- Kelelahan
- Otot pegal
- Bengkak dan kemerahan
- Demam ringan
- Kesulitan berkonsentrasi
- Mati rasa dan kesemutan di tangan dan kaki
- Rambut rontok
- Ruam kulit




Simak Video "Lebih Dekat dengan Komunitas Autoimun Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)