Kamis, 10 Okt 2019 10:00 WIB

Mirip Kisah Horor, Seorang Gadis Ceritakan Bibir Hasil Oplas 'Meledak'

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ilustrasi filler bibir. Foto: Thinkstock Ilustrasi filler bibir. Foto: Thinkstock
Jakarta - Seorang gadis, Mikayla Stutchberry asal Australia gagal tampil lebih cantik setelah bibir hasil operasi plastik atau oplasnya 'meledak.' Mikayla yang sempat menelan cairan lip-filler tersebut juga nyaris mengalami buta.

"Ada bagian di bibir saya yang melepuh dan akhirnya 'meledak.' Setelah itu, saya mulai menelan cairan lip-filler dan kehilangan kesadaran. Kejadiannya seperti cerita horor di televisi, yang saya tak mengira akan mengalaminya sendiri," kata Mikayla dikutip dari Mirror.

Sama seperti temannya yang lain, Mikayla ingin bibirnya lebih seksi dan berisi dengan menyuntikkan filler di sebuah klinik. Sayang bukannya tampil sesuai harapan, Mikayla justru mengalami insiden tersebut dan kehilangan pekerjaan karena harus absen.


Menanggapi insiden tersebut, Profesor Mark Ashton yang pernah menjabat sebagai pimpinan Australian Society of Plastic Surgeons mengatakan Mikayla beruntung. Insiden bisa saja lebih parah dengan filler yang terbawa ke seluruh wajah dan mengakibatkan kebutaan.

"Dia bisa saja buta seketika karena lip filler yang mengalir ke wajah bagian atas, sepanjang hidung, dan akhirnya ke mata. Filler dapat mengakibatkan kematian jaringan," kata Prof Ashton.

Senada dengan Prof Ashton, dokter di bidang kecantikan Daniel Lanzar juga prihatin atas insiden pada Mikayla. Risiko terjadinya insiden makin besar seiring banyaknya klinik yang menawarkan jasa lip filler.

Lanzar adalah dokter ahli kesehatan kulit, yang membawa teknik lip filler dan injeksi ke Australia sekitar dua dekade lalu. Menurut Lanzar, lip filler sebagai tindakan medis harus dilakukan di kamar praktik. Tindakan tidak seharusnya dilakukan klinik yang beroperasi di pusat perbelanjaan.

Dengan pertimbangan tersebut, Prof Ashton berharap lip filler hanya dilaksanakan usai konsultasi dengan dokter. Konsultasi harus dilakukan dengan tatap muka antara dokter dan pasien, bukan dengan bantuan teknologi sehingga bisa dilakukan jarak jauh. Prof Ashton juga menyarankan pencabutan izin praktik pada klinik yang melakukan konsultasi jarak jauh, padahal bisa langsung berkonsultasi untuk mengetahui kondisi pasien sebenarnya.



Simak Video "Mengapa Operasi Plastik Hasilnya Kadang Tak Memuaskan?"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)