Kamis, 10 Okt 2019 11:04 WIB

Mengenal Protein Hidrolisa Parsial, Susu Alternatif untuk Anak Alergi

Akfa Nasrulhak - detikHealth
Foto: shutterstock Foto: shutterstock
Jakarta - Alergi susu sapi dapat diartikan ketika sistem kekebalan anak keliru dalam mengenali protein susu sebagai sesuatu yang berbahaya dan harus dilawan. Gejala yang terjadi pada alergi susu sapi secara umum hampir sama dengan gejala alergi makanan lainnya.

Menurut Head of Medical Kalbe Nutritionals dr Muliaman Mansyur, biasanya target organ utama reaksi terhadap alergi susu sapi adalah kulit, saluran cerna, dan saluran napas. Meski demikian, dari ketiga gejala alergi tersebut, setiap usia memiliki kerentanan yang berbeda. Misalnya pada saat usia awal kehidupan 1 tahun pertama, maka gejala kulit adalah yang terbanyak.

"(Gejala kulit) itu karena terjadi kontak dengan popok, sabun, atau udara. Pada saat usia mulai MPASI, maka (alergi) itu disebabkan karena food alergy dengan gejala yang bermacam-macam tergantung tingkat alerginya. Biasanya alergi karena susu sapi ini akan mulai berkurang pada usai 2 tahun karena si kecil sudah mulai mengenal dengan protein susu sapinya," jelas dr Muliaman, kepada detikhealth baru-baru ini.


"Tapi seringkali walaupun si kecil tidak alergi lagi dengan susu sapi dia ada risiko alergi dengan obat, udara, dingin, makanan seafood dan lain sebagainya," tambahnya.

dr Muliaman menambahkan, agar kita mengetahui apakah anak mempunyai alergi sejak dini adalah dengan cara melihat risiko dari riwayat orang tua, ayah dan ibu serta saudara. Apakah salah satu anggota keluarga tersebut pernah mengalami alergi atau tidak.

"Jika salah satu dari mereka mempunyai riwayat alergi kemungkinan besar si kecil juga ada alergi. Jika tidak mengetahui riwayat biasanya terlihat dari munculan reaksi kulit si kecil yang sangat sensitif dengan sesuatu. Segera lakukan penghindaran alergen seperti jangan memberikan susu sapi dulu tapi hanya ASI," ujarnya.

Namun terkadang pada kasus tertentu, sebagian ibu tidak bisa memberikan ASI bagi si kecil. Padahal anak membutuhkan nutrisi yang sesuai dengan kemampuan sistem pencernaannya untuk tumbuh dan berkembang.

Karena itu, dr Muliaman menganjurkan agar si kecil diberikan susu formula protein hidrolisa parsial sebagai pilihan alternatifnya. Protein terhidrolisis parsial merupakan sebuah hasil dari teknologi yang memotong panjang rantai protein menjadi lebih pendek dan memperkecil ukuran massa molekul protein sehingga protein akan lebih mudah dicerna dan diterima oleh anak.

"Protein hidrolisa parsial merupakan bentuk protein susu sapi yang dipotong-potong sebagian dengan tujuan supaya protein ini lebih mudah diserap dan juga low alergen. Sehingga dapat mencegah gejala alergi yang muncul. Karena pada bayi dan anak 2-10 persen di antaranya berisiko alergi terhadap protein susu sapi yang utuh, jadi perlu dimodifikasi dan dipotong proteinnya menjadi parsial atau sebagian," ujar dr Muliaman.

Lewat cara ini, dapat memungkinkan anak yang tidak toleran terhadap protein susu sapi, dapat tetap memperoleh nutrisi dengan asupan protein yang dibutuhkan untuk mendukung tercapainya pertumbuhan yang optimal. Bahkan, bagi anak yang normal, tanpa memiliki gejala alergi, protein yang telah dipotong ini juga aman dikonsumsi.


"Protein hidrolisa parsial itu sebenarnya bisa digunakan pada kondisi normal, terutama kalau selama proses pemotongannya melibatkan kedua protein susu whey dan casein, sehingga bisa di gunakan untuk kondisi anak dan bayi normal," ujarnya.

Salah satu alternatif susu yang mengandung protein hidrolisat parsial adalah Morinaga Chil Kid P-HP. Morinaga Chil Kid P-HP mengandung nutrisi untuk mendukung kecerdasan multitalenta si kecil, pertahanan tubuh ganda dengan menjaga kesehatan saluran cerna serta tumbuh kembang optimal. Morinaga Chil Kid P-HP adalah susu pertumbuhan untuk anak usia 1-3 tahun dengan manfaat mengurangi risiko alergi bagi anak yang berbakat alergi.

Simak Video "Obat HIV/AIDS Tersedia Gratis untuk Masyarakat"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/akn)