Kamis, 10 Okt 2019 12:04 WIB

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia

Kata Dokter Jiwa Soal Sikap Arteria Dahlan Tunjuk-tunjuk Emil Salim

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Politiskus PDIP Arteria Dahlan viral gara-gara mendebat Emil Salim sambil menuding-nuding. (Foto: Ari Saputra) Politiskus PDIP Arteria Dahlan viral gara-gara mendebat Emil Salim sambil menuding-nuding. (Foto: Ari Saputra)
Jakarta - Politikus PDIP Arteria Dahlan menjadi trending di media sosial saat episode debat terkait Perppu KPK dengan ekonom Emil Salim viral. Arteria terlihat mengomel, menunjuk-nunjuk dan menyebut Emil sesat.

Arteria Dahlan cukup sering terlihat emosi hingga lepas kendali di depan publik. Soal kaitannya dengan masalah kejiwaan, dr I Gusti Rai Putra Wiguna, SpKJ, psikiater dari Sudirman Medical Centre Bali, menyebut belum tentu ada kecenderungan ke arah itu.

dr Rai, sapaannya, menyebut harus melihat lebih jauh apakah memang Arteria sering melakukan hal tersebut, misalnya marah-marah di depan publik. Karena marah yang sering bisa menjadi salah satu gejala dari pengidap gangguan depresi, gangguan bipolar atau penyalahgunaan NAPZA.



"Marah yang terlalu hebat dan sering muncul tentu sangat mengganggu sehingga perlu mengikuti anger management. Perlu berkonsultasi pada psikiater atau psikolog klinis. Untuk mempercepat pemulihan. Tapi jangan stigma wah ini gangguan jiwa nih, kita ke psikiater atau psikolog bukan semata-mata untuk gangguan jiwa tapi untuk memperbaiki kapasitas diri kita," tuturnya saat dihubungi detikcom, Kamis (10/10/2019).

Marah, ia melanjutkan, sebenarnya adalah adalah ekspresi emosi sekunder, ekspresi emosi primer. Rasa yang sesungguhnya bisa macam-macam, seperti rasa kecewa, malu, sedih frustasi, tak nyaman, tidak dihargai, kesepian, rasa jijik, perasaan tidak aman (insecure), penolakan, merasa terjebak, rasa tidak dihargai, rasa takut, dan lain-lain.

Hormon stres yang timbul akibat marah yang terlalu sering bisa menyebabkan sel-sel saraf rusak di bagian tertentu, misalnya prefrontal cortex, yang membuat orang marah cenderung membuat keputusan buruk. Kemudian juga mempengaruhi area yang mengatur memori atau hippocampus, sehingga kerap kita melupakan apa yang kita katakan saat marah.

"Nah kalau kemudian kita yang menonton melihat dia yang aslinya seperti tidak bisa mengendalikan sendiri dalam ilmu kejiwaan hal itu bisa dijelaskan, jadi kita nggak punya kendali soal diri kita. Itulah penjelasannya kenapa kalau kita marah jadi lost control," pungkasnya.



Simak Video "Teknik Meditasi Pernapasan Sederhana"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)