Jumat, 11 Okt 2019 06:41 WIB

Popularitas Film Joker Dibayangi Stigma Negatif Gangguan Jiwa

Michelle Natasya - detikHealth
Postingan BPJS Kesehatan. Foto: Dok. YLBHI Postingan BPJS Kesehatan. Foto: Dok. YLBHI
Jakarta - Beberapa hari lalu, BPJS Kesehatan memposting iklan layanan masyarakat dengan tulisan 'JKN-KIS menanggung perawatan penyakit Orang Dengan Gangguan Jiwa, agar tidak tercipta Joker-joker lainnya'. Postingan ini disomasi oleh beberapa komunitas peduli kesehatan jiwa, salah satunya adalah Perhimpunan Jiwa sehat.

Menurut Yeni Rosa, ketua Perhimpunan Jiwa Sehat, postingan BPJS tersebut dapat membuat masyarakat berpendapat bahwa setiap ODGJ dan PDM adalah orang-orang yang berbahaya dan berpotensi menjadi seorang penjahat.

"Ini adalah sebuah stigma yang sangat kejam terhadap ODGJ yang akan menggelembungkan stigma yang selama ini sudah ditimpakan kepada ODGJ atau PDM oleh masyarakat," tegas Yeni pada detikcom, Kamis (10/10/2019).



Menurut Yeni, gangguan jiwa merupakan salah satu topik yang sering disalahartikan di berbagai media. Karakter dengan gangguan jiwa seringkali digambarkan sebagai individu yang berbahaya, kejam, dan destruktif. Ia menganggap, film Joker pun sepertinya jatuh ke dalam perangkap stereotip ini.

"Film Joker berusaha menjelaskan latar belakang mengapa Joker berkembang menjadi monster. Namun, saya khawatir bahwa penggambarannya akan menambah stigmatisasi lebih lanjut terhadap gangguan jiwa, atau lebih buruk lagi, menumbuhkan kepercayaan bahwa orang yang mengalami gangguan jiwa adalah orang yang berbahaya yang harus dijauhi dan pantas diperlakukan sebagai pariah sosial," terang Yeni.

Yeni berpesan bagi masyarakat untuk bersikap kritis dalam melihat film ini. Ia berharap masyarakat tidak langsung mengasosiasikan bahwa semua orang dengan gangguan jiwa itu sama seperti Joker.



Simak Video "Respons BPJS Kesehatan yang Disomasi Gara-gara 'Pakai' Joker"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)