Jumat, 11 Okt 2019 07:11 WIB

Round Up

Sikap Arteria Dahlan Tunjuk-tunjuk Emil Salim di Mata Dokter Jiwa

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Arteria Dahlan. Foto: Twitter @TRANS7 Arteria Dahlan. Foto: Twitter @TRANS7
Jakarta - Terlihat emosi dan menunjuk-nunjuk ekonom Emil Salim hingga menyebutnya 'sesat', politisi PDIP Arteria Dahlan menjadi sorotan warganet. Adegan tersebut terjadi saat sesi debat soal Perppu KPK dalam acara Mata Najwa.

Perilaku Arteria mendapat banyak komentar dari warganet saat tampil 'ngegas' dalam sebuah debat dengan ekonom senior Emil Salum. Menurut psikiater dari UbudCare Clinic, dr I Gusti Rai Putra Wiguna SpKJ, sering marah hingga lepas kendali termasuk ciri yang ditemukan pada berbagai jenis masalah kejiwaan.

"Marah yang terlalu hebat dan sering muncul tentu sangat mengganggu sehingga perlu mengikuti anger management. Perlu berkonsultasi pada psikiater atau psikolog klinis. Untuk mempercepat pemulihan. Tapi jangan stigma wah ini gangguan jiwa nih, kita ke psikiater atau psikolog bukan semata-mata untuk gangguan jiwa tapi untuk memperbaiki kapasitas diri kita," tuturnya saat dihubungi detikcom, Kamis (10/10/2019).

Ia juga menyoroti soal anger management apabila hal tersebut sering dialami oleh Arteria untuk memperbaiki kapasitas yang tadinya sering marah supaya punya kendali dan fokus. Karena menurutnya marah adalah ekspresi sekunder yang terjadi karena ada hal primer. Misalnya, marah karena jengkel, merasa tidak aman, frustrasi, dan lainnya.



Seniman Sudjiwo Tejo juga sempat menyinggung masalah kesopanan, seharusnya orangtua tidak boleh dikasari. dr Rai, sapaannya, menyebut agar mengurangi kesan tidak sopan apabila sedang berdebat dengan orang yang lebih tua bisa melakukan pola 'I-message'."

"Gesture komunikasi jadi kesannya nggak sopan bisa diperbaiki dengan memakai pola i-message artinya pernyataan selalu dengan kata i atau saya. Contoh: Saya merasa jengkel kalo bapak berusaha menyesatkan informasi. Saya merasa......... dengan atau kalau atau bila....." ujar dr Rai.

Hal ini disebabkan pola 'I-message' memberikan jeda pada otak untuk lebih mengenali perasaan kita sendiri dan membuat lawan bicara lebih mendapatkan pesannya. Misalnya saja, bisa dituturkan dengan 'Saya merasa marah dengan pernyataan Bapak tentang.....'

"Iya debat yang baik adalah soal message-nya, dalil dan dalihnya. Misal ketika debat Budiman vs Dhandy kan panas soal konten tapi adem soal cara. Untuk (penonton) menilai marahnya wajar apa nggak, kita lihat marah pada orang yang tepat, tingkat yang tepat, situasi yang tepat dan marahnya pesannya jelas nggak. Namanya komunikasi kan dua arah, saat orang berkomunikasi dengan orang yang marah, jika kita tak punya kendali diri yang baik kita juga bisa ikutan marah," kata dr Rai.

"Kalau sampai penonton enggak nangkap, berarti pesan marahnya tak jelas, perlu berlatih marah yang lebih sehat. Bercermin saja dari perilaku tersebut, jangan sampai kita marah di depan umum tanpa alasan yang jelas," tandasnya.



Simak Video "Kata Dokter Jiwa soal Ramai 'Keluhan' Pasca Nonton Joker"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)