Minggu, 27 Okt 2019 18:06 WIB

Mungkinkah Pelaku Prostitusi Online Punya Gangguan Hiperseksual?

Rosmha Widiyani - detikHealth
PA (kiri bertopi hitam) yang terlibat dalam prostitusi online, apakah ada kemungkinan hiperseksual? Foto: Istimewa
Jakarta - Kasus prostitusi online yang melibatkan PA terbongkar polisi di Kota Batu, Jawa Timur. Seperti prostitusi online yang lain, kasus ini juga melibatkan uang yang tidak sedikit.

"Ada memang uang Rp 13 juta lebih sebagai uang muka di dalam transaksi online itu," ujar Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera di Makassar, Sulawesi Selatan, kepada detikcom.


Menghabiskan banyak dana untuk menggunakan layanan prostitusi tentu memiliki motif sendiri. Apalagi hubungan seks berisiko seperti pada kasus protistusi. Mungkinkan salah satu motifnya adalah gangguan hiperseksual?

"Belum tentu hiperseksual ya, karena harus ada pemeriksaan medis untuk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan bisa dilakukan pada pihak yang terlibat dalam hubungan tersebut," kata seksolog dr Heru Oentoeng, MRepro, SpAnd, pada detikcom.

Menurut dr Heru, prostitusi online tidak harus terjadi karena ada gangguan seksual maupun kondisi fisik tertentu. Misal keinginan mencoba hal baru namun tidak dilakukan bersama pasangannya.

Gangguan seksual sendiri tidak harus berujung prostitusi yang melibatkan duit. Pasien kadang mencari atau menerima yang gratis demi memenuhi keinginannya.

Terlepas dari motif yang melatari prostitusi online, dr Heru kembali mengingatka risiko menjalani hubungan seks berisiko dalam prostitusi, misal terinfeksi penyakit menular seksual (PMS). Jika merasa ada yang salah dengan kondisi tubuh sebaiknya segera konsultasi pada dokter yang berkompeten.



Simak Video "Ini Bahayanya Jika Hand Sanitizer Digunakan Terus Menerus"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)