Selasa, 29 Okt 2019 16:36 WIB

Ganja Medis Tak Terbukti Bisa Obati Gangguan Mental

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Ganja belum terbukti bisa tangani masalah kesehatan mental. Foto: Getty Images/AFP Ganja belum terbukti bisa tangani masalah kesehatan mental. Foto: Getty Images/AFP
Jakarta - Saat ini semakin banyak negara yang melegalkan ganja untuk kebutuhan medis dan rekreasional. Di Asia Tenggara, Thailand sudah mulai melegalkan ganja dan menyusul Malaysia untuk keperluan medis.

Namun yang menjadi masalah adalah meski banyak masyarakat yang beralih menggunakan senyawa ganja atau cannabinoid untuk mengobati masalah kejiwaan yang mereka alami seperti depresi dan kecemasan, ternyata zat tersebut tidak berbuat banyak untuk kesehatan mental.

Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan di Australia dan diterbitkan dalam jurnal Lancet Psychiatry menganalisis data dari 83 studi yang melihat efek ganja pada kesehatan mental dan kondisi neurologis termasuk depresi, kecemasan, sindrom Tourette, ADHD, PTSD dan psikosis menemukan hanya sedikit bukti untuk efektivitas ganja medis bagi pengobatan gangguan kesehatan mental.


"Tidak ada bukti nyata yang berkualitas tinggi untuk menilai dengan benar efektivitas dan keamanan ganja medis," kata penulis utama Louisa Degenhardt, profesor di University of New South Wales di Sydney, Australia, dikutip dari Live Science.

"Dokter dan konsumen perlu mewaspadai rendahnya kualitas dan kuantitas bukti untuk efektivitas ganja medis dalam mengobati gangguan kesehatan mental dan potensi risiko kejadian buruk," catat mereka.

Meski demikian, peneliti melihat ganja medis sering diresepkan untuk pasien yang depresi dan kecemasannya merupakan kondisi sekunder, bukan untuk pengobatan penyakit utama dan ganja bisa membantu mengurangi rasa sakit atau mual yang mengarah pada pengurangan gejala kesehatan mental.

Itu hasil yang bagus, tentu saja, tetapi itu tidak selalu berarti bahwa ganja secara langsung mengobati depresi atau kecemasan.



Simak Video "Buka Lowongan! Penguji Ganja Profesional Dibayar Rp 500 Juta"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)