Rabu, 30 Okt 2019 08:17 WIB

Perjuangan Para Penyintas agar Obat Kanker Trastuzumab Ditanggung BPJS

Widiya Wiyanti - detikHealth
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendukung obat trastuzumab tersedia untuk pasien kanker stadium awal. (Foto: iStock) Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendukung obat trastuzumab tersedia untuk pasien kanker stadium awal. (Foto: iStock)
Jakarta - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, SS, sangat mendukung agar obat kanker payudara HER2 positif yaitu trastuzumab bisa diberikan pada pasien stadium awal. Ia pun mengajak Ketua Komisi IX DPR RI Felly Runtuwene untun mendengarkan keluhan para pasien.

Sementara berdasarkan Peraturan Kementerian Kesehatan (Permenkes) No. 22 Tahun 2018, obat trastuzumab hanya dapat diberikan pada pasien kanker payudara HER2 positif yang mengalami metastase pada stadium lanjut. Padahal, jika diberikan di awal stadium, risiko kekambuhannya akan lebih kecil.

"Kami para penderita HER2 positif, saya sendiri penyintas, mendapatkan masalah bahwa tahun 2018 yang lalu obat ini tidak lagi masuk dalam jenis obat yang diberikan dalam jaminan pemerintah. Meskipun ada beberapa kawan yang berjuang, BPJS kembali memasukkan dengan beberapa catatan," kata Lestari saat ditemui di Perpustakaan Nasional, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (29/10/2019).


"Akan tetapi ada hal-hal mendasar yang harus diketahui bahwa HER2 positif ini kan kanker yang jenisnya agresif, sangat agresif. Dan pemberian obat jenis trastuzumab apabila diberikan pada situasi di mana penderita masih pada tahap awal justru keberhasilannya jauh lebih besar dibanding apabila diberikan pada kondisi lebih lanjut," imbuhnya.

Sebagai penyintas kanker payudara HER2 positif, Lestari akan ikut serta memperjuangkan agar obat trastuzumab ini dapat diberikan pada pasien stadium awal dan dijamin oleh BPJS Kesehatan. Ia dan komisi IX juga akan mendorong Kementerian Kesehatan untuk memperbaiki kata 'progresif' yang ada pada Permenkes No. 22 Tahun 2018, seperti yang dikeluhkan para dokter, termasuk dokter spesialis onkologi-radiasi dari RS Siloam, dr Denny Handoyo Kirana, SpOnk-Rad.

"Kebetulan Bu Ariyanthi sudah diskusi dengan Komisi IX untuk memperbaiki koreksi dari Permenkes yang sekarang. Tujuannya kita berharap petunjuk teknis yang berikutnya kata-kata 'progresif' dibuat lebih jelas dan kita berharap stadium dini sudah bisa diberikan (trastuzumab -red)," tutur dr Denny.

Obat trastuzumab menjadi pilihan obat yang disebut lebih efektif bagi pasien kanker payudara HER2 positif, selain itu harganya pun disebut lebih murah dibanding obat lain yang efektifitasnya tidak jauh berbeda. Banyaknya pasien kanker payudara HER2 positif sendiri sekitar 20 persen dari total kasus kanker payudara di Indonesia.



Simak Video "Payudara Prostetik untuk Pengidap Kanker Payudara"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/up)