Rabu, 06 Nov 2019 06:30 WIB

Ingatkan Bahaya Gula Berlebih, Dinkes DKI Singgung Lingkar Perut

Nurul Khotimah - detikHealth
Dibanding berat badan, lingkar perut lebih akurat memprediksi risiko penyakit (Foto: iStock) Dibanding berat badan, lingkar perut lebih akurat memprediksi risiko penyakit (Foto: iStock)
Jakarta - Semakin banyak lemak yang menumpuk pada perut semakin rentan risiko terserang penyakit degeratif seperti diabetes melitus. Memiliki Indeks Masa Tubuh (IMT) normal tidak menjamin bebas dari diabetes.

Dibanding berat badan, besarnya lingkar perut lebih menentukan distribusi lemak pada tubuh. Idealnya lingkar perut normal pada wanita tidak kurang dari 80 cm, sementara pria tidak lebih dari 90 cm. Tentunya lingkar perut berlebih perlu diperhatikan.

Menurut dr Dwi Oktavia Handayani, M.Epid, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, mengurangi lingkar perut bisa dilakukan dengan berolahraga rutin. Olahraga sesuai kemampuan tiap individu masing-masing.

Olahraga yang dilakukan baiknya bertahap, sehingga tubuh akan terbiasa menjalani olahraga rutin.



Misalnya, ketika kita hanya mampu jalan 10 menit, lakukanlah dalam seminggu minimal tiga kali berjalan 10 menit. Jika dirasa sudah terbiasa tambahlah durasi berjalannya. Selain durasi, kecepatan berjalan juga perlu ditingkatkan untuk memaksimalkan pembakaran lemak di tubuh.

"Bertahap kaya gitu sampai rutin, minimal bisa 150 menit tiap minggu," jelas dr Dwi, Selasa (5/11/2019)

Meski sudah berolahraga, menjaga pola makan juga penting untuk mengecilkan lingkar perut. Makanan yang patut mulai dibatasi adalah makanan dengan tinggi karbohidrat dan lemak.

Dwi menjelaskan, karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh akan dikonversi menjadi gula. Maka karbohidrat yang berlebih akan menghasilkan gula berlebih dan menumpuk menjadi lemak. Inilah sebab makanan tinggi karbohidrat perlu dibatasi untuk lemak yang menumpuk pada perut.



Simak Video "Menu Diet ala Korea Ini Bisa Cegah Diabetes Loh!"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)