Jumat, 08 Nov 2019 06:00 WIB

Round Up

Tentang Threesome, Fantasi Seks yang Menjerat 'Ibu Guru' di Bali

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Fantasi seks threesome lebih banyak risikonya daripada sensasinya (Foto: iStock) Fantasi seks threesome lebih banyak risikonya daripada sensasinya (Foto: iStock)
Jakarta - Kasus perilaku seks menyimpang threesome kembali muncul dan dilakukan oleh guru honorer di Buleleng, Bali, Ni Made Sri Novi Darmaningsih (29) dan pacarnya AA Putu Wartayasa (36). Parahnya, mereka mengajak salah satu murid yang baru berusia 15 tahun. Ulah sang guru akhirnya terbongkar dan orang tua korban melaporkannya ke polisi.

Setelah diselidiki, keinginan pelaku untuk melakukan perilaku menyimpang itu terinspirasi dari film porno yang ditontonnya. Padahal, semua yang ditampilkan dalam film tersebut hanya kebohongan dan akting semata. Tidak ada yang benar-benar terjadi di dunia nyata.

Threesome populer sebagai aktivitas seksual yang melibatkan tiga orang. Menurut situs Your Tango, kegiatan ini dinilai tidak lazim dan lebih berisiko kecanduan atau ketularan.



Seorang seksolog, dr Heru Oentoeng, SpAnd menyebutkan, threesome ini belum tentu bisa dikategorikan sebagai gangguan seksual. Kecuali jika ada paksaan untuk mendapatkan kepuasan seksual dan lainnya.

"Jadi kita tidak bisa mengatakan itu sebagai gangguan. kita kan nggak tahu bagaimana sampai terjadi kasus seperti itu kecuali ada kasus pemaksaan, Kalau diiming-imingi uang dan HP kan itu salah satu bentuk rayuan. seolah-olah memaksa dalam arti ada imbalan, itu sudah termasuk dalam kategori nggak benar," jawabnya.

Perilaku threesome ini memang tidak untuk direalisasikan, baik oleh orang yang sudah atau belum menikah. Ini karena saat melakukannya mungkin tidak sehebat yang telah dibayangkan sebelumnya. Dampaknya, akan menimbulkan rasa menyesal, hilangnya harga diri si wanita, dan timbulnya rasa malu.



Soal threesome ini juga tidak luput dari pertanyaan sang anak. Bisa jadi mereka mengetahuinya melalui teknologi informasi yang semakin canggih saat ini.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr Hasto Wardoyo, SpOG, mengatakan agar orang tua menjawab pertanyaan seperti itu dengan jelas dan baik sesuai dengan usianya. Ini dilakukan untuk menghindari mereka mencari ke sumber lain yang belum pasti kebenarannya.

"Memberi jawaban yang baik dan jelas seperti ini mungkin bisa menekan risiko si anak mencari sumber lain untuk menjawab pertanyaannya. Belum tentu kan sumber itu akurat dan bisa dipercaya, misalnya dari teman ataupun internet yang mereka akses," ungkapnya.



Simak Video "Obat HIV/AIDS Tersedia Gratis untuk Masyarakat"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)