Rabu, 13 Nov 2019 11:17 WIB

Alasan Psikologis untuk Tidak Ikut Sebar Foto Pelaku Bom Bunuh Diri Medan

Widiya Wiyanti - detikHealth
Bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Foto: Datuk Haris Molana Bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Foto: Datuk Haris Molana
Jakarta - Ledakan yang diduga bom bunuh diri terjadi di Polresta Medan, Sumatera Utara. Kejadian itu terjadi pagi tadi, Rabu (13/11/2019). Berdasarkan informasi yang diperoleh, pelaku yang menggunakan jaket ojek online diduga ada dua orang.

"Ya betul (dua orang)," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, seperti yang diberitakan detikcom, Rabu (13/11/2019).

Kejadian ini pun ramai pula di media sosial, tidak sedikit yang menyebarkan rekaman atau foto kejadian tersebut dengan gambar yang tidak sepantasnya. Aksi terorisme, kerusuhan, kecelakaan, hingga bencana alam, kerap diwarnai dengan broadcast kondisi korban maupun pelaku.



Namun sebaiknya stop di kamu jika mendapatkan visual sadis selalu muncul dalam setiap peristiwa yang memakan korban. Ada beberapa alasan psikologis yang mendasari imbauan untuk tidak ikut-ikutan share atau membagikan foto korban. Alasan pertama terkait dengan empati bagi korban dan keluarganya, seperti disampaikan dr Suzy Yusna Dewi, SpKJ, psikiater dari RSJ dr Soeharto Heerdjan.

"Secara psikologis, keluarga korban pasti merasa sangat sedih. Sebaiknya memang tidak disebar (foto-totonya)," kata dr Suzy saat mengomentari kejadian bom bunuh diri di gereja Surabaya.

Alasan berikutnya adalah efek traumatis. Tidak hanya berdampak para orang-orang yang saat itu ada di lokasi, tetapi juga mereka yang pernah berada pada situasi serupa. Foto-foto yang beredar bisa memunculkan secondary trauma, yakni trauma yang muncul hanya dengan melihat dan menjiwai suatu peristiwa sesuai pengalaman hidup seseorang.

"Orang yang pernah punya trauma serupa juga bisa diingatkan akan traumanya. Kan jadinya retraumatized," kata psikolog di Jakarta, Rahajeng Ika, seperti yang pernah diberitakan detikcom sebelumnya.



Simak Video "Ini Dampak Konstipasi BAB pada Anak"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/fds)