Rabu, 20 Nov 2019 07:37 WIB

Aksi Pamer Kemaluan Gemparkan Bandung, Kenapa 'Ekshibisionisme' Makin Ramai?

Firdaus Anwar - detikHealth
Polisi mencari pria yang membuat heboh pamer kemaluan di Bandung. (Foto: Wisma Putra) Polisi mencari pria yang membuat heboh pamer kemaluan di Bandung. (Foto: Wisma Putra)
Jakarta - Sebelumnya sempat heboh teror lempar sperma di Tasikmalaya, Jawa Barat. Hanya sehari berselang setelah pelakunya ditangkap polisi pada hari Senin (18/11/2019), kali ini muncul kasus pengendara motor pamer kemaluan di Bandung.

Dua kasus di atas disebut sama-sama menunjukkan kecenderungan gangguan penyimpangan seksual ekshibisionisme. Orang dengan gangguan ekshibisionisme dijelaskan psikiater bisa memperoleh kepuasaan seksual dengan menunjukkan organ intimnya ke orang lain yang tidak menduga.

"Kalau kita ngomongin ekshibionis maksud ke kategori gangguan kejiwaan, gangguan perilaku seksual. Ya udah lah harus dikonsultasi harus diobati," ujar seksolog dr Heru Oentoeng, MRepro, SpAnd, dari RS Siloam Hospitals Kebon Jeruk.


Lalu mengapa sepertinya saat ini kasus pamer kemaluan semakin ramai? dr Heru punya teori kemungkinan karena saat ini sudah ramai orang yang melaporkan. Dulu mungkin orang-orang hanya diam saja saat menghadapi kasus ekshibisionisme namun setelah ramai akhirnya mulai bermunculan laporan ke polisi.

"Karena ada yang laporin, selama ini mungkin enggak pernah dianggap. Itu istilahnya pengawasan dari masyarakat," kata dr Heru saat dihubungi detikcom, Selasa (19/11/2019).

Menurut dr Heru yang perlu diperhatikan dari ramainya kasus pamer kelamin ini adalah evaluasi kejiwaan para pelaku. Hukuman pidana bukan solusi karena sebetulnya pelaku sedang sakit mental bila memang benar pamer kelamin karena ekshibisionisme.

"Memang perlu dilaporin tapi bukan untuk dipidana, lebih ke evaluasi kejiwaan untuk menolong. Bukan membuat jera dengan hukuman fisik karena enggak bisa. Selama kejiwaannya enggak diterapi hukuman tidak akan membuat jera karena itu dari pola pikir," kata dr Heru.

"Jangan lupa dia itu orang sakit. Karena dia enggak mampu mengontrol dorongan seksual," pungkasnya.



Simak Video "Penjelasan Ahli Soal Dugaan Ekshibisionisme Pelaku Pelempar Sperma"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)