Rabu, 20 Nov 2019 17:17 WIB

Meskipun Iuran Naik, BPJS Kesehatan Diprediksi Masih Defisit di 2020

Widiya Wiyanti - detikHealth
Defisit BPJS Kesehatan diperkirakan masih tetap ada pada tahun 2020. Foto: Enggran Eko Budianto Defisit BPJS Kesehatan diperkirakan masih tetap ada pada tahun 2020. Foto: Enggran Eko Budianto
Jakarta - Permasalahan defisit yang dialami BPJS Kesehatan memang belum ada habisnya. Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris mengatakan, kenaikan iuran yang berlaku mulai awal 2020 mendatang pun belum mampu menutup keseluruhan defisit di tahun 2020.

"Tahun 2021 perhitungan aktuaria kami akan mengalami surplus dan 2020 bisa menutup defisit carry over di 2019 ini," ujarnya di Kantor Pusat BPJS Kesehatan, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Selasa (19/11/2019).

Hal yang sama juga dikatakan oleh Direktur Perencanaan, Pengembangan dan Manajemen Risiko Dr Mundiharno, MSi bahwa defisit masih tetap ada di tahun 2020. Namun besaran angkanya diperkirakan menurun secara signifikan dari tahun 2019.

"Di 2020 kemungkinan masih (defisit), tapi besarannya jauh berkurang. Tahun 2021 Insya Allah sudah mulai positif keuangan BPJS," tambahnya.



Sebelumnya, defisit BPJS Kesehatan diprediksi mencapai Rp 32 triliun hingga akhir tahun 2019. Fachmi menyebut, pada Jumat (22/11/2019), pemerintah mencairkan dana sekitar Rp 9,13 triliun untuk BPJS Kesehatan.

"Kita dapat tambahan dana karena iuran PBI (penerima bantuan iuran) naik. Rencananya kalau tidak ada halangan, Jumat akan cair. Kita langsung distribusikan ke rumah sakit, paling lambat Senin. Besarannya kurang lebih Rp 9,13 triliun," katanya.

"Minggu depan akan turun lagi tahap berikutnya sekitar Rp 13-14 triliun. Itu gambarannya," pungkas Fachmi.



Simak Video "Respons BPJS Kesehatan yang Disomasi Gara-gara 'Pakai' Joker"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/fds)