Minggu, 24 Nov 2019 13:00 WIB

Mau Sampai Kapan Gangguan Jiwa Dianggap Kerasukan Setan?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Kesetanan, kesurupan, gila, disandang mereka yang mengalami gangguan jiwa. (Foto: Enggran Eko Budianto) Kesetanan, kesurupan, gila, disandang mereka yang mengalami gangguan jiwa. (Foto: Enggran Eko Budianto)
Jakarta - "Semua nganggep gue kesurupan," kenang Lintang (23). "Gimana mau berobat, pas lagi kambuh aja dibawanya ke orang pinter. Sembuh enggak, makin stres iya."

Lintang hanya satu dari sekian banyak pengidap depresi yang diberi label sama oleh masyarakat. Kesetanan, kesurupan, gila, disandang mereka yang mengalami gangguan jiwa.

Terkadang, stigma yang melekat kuat menjadi penghalang mereka mencari bantuan profesional. Merasa malu dan takut jika cerita, padahal batin sudah meronta-ronta ingin cari bantuan.

"Gue sampai dijauhin sama temen-temen karena katanya kesurupan gue nggak sembuh-sembuh. Lucu sih kalau diingat sekarang, tapi dulu itu salah satu yang bikin gue ke trigger."

Perlakuan orang tua dan teman menjadi dua faktor utama remaja mengalami gangguan jiwa. Bayangkan jika di sekolah, waktu di mana mereka menghabiskan setengah harinya, diisi dengan sindiran, makian, umpatan, bahkan bully, yang disematkan pada remaja.

Hal yang sama dialami oleh Rai (25), yang memiliki niat bunuh diri karena depresi yang dialaminya sejak duduk di bangku SMA. Ia tak bisa mencari bantuan lewat manapun karena kala itu bimbingan konseling hanya menangani siswa yang bermasalah dengan akademik. Terlebih, ia juga mengaku tak bisa cerita ke siapapun karena takut mendapat stigma.

"Tau sendiri orang Indonesia kayak gimana. Walau cerita sama saudara, pasti ada kecenderungan buat memihak," kata Rai.

Saat kesehatan mental mulai membumi, sekitar tahun 2015 awal, Rai mencoba peruntungannya untuk menghubungi layanan konseling dan psikolog namun selalu kandas karena tak mendapat respon. Kadung kesal ditambah tekanan karena depresi, ia sempat mencari 'cara terbaik' untuk mengakhiri hidup.


"Sempat dulu browsing tentang rating seberapa sakit cara-cara suicide. Mulai dari gantung diri, minum racun, overdose," kenangnya. "Tapi untung guanya yang takut mati, gue ngurugin niat aneh-anehnya. Larinya ke alkohol," paparnya.

Sampai sekarang, Rai tak mengikuti konseling karena pikirnya, akan ada mediasi dengan orang tua dan ia sangat menghindari itu. Belum lagi jika sanak saudara dan teman yang jadi pemicu itu tahu kondisinya lalu memberinya stigma. Bukan tidak mungkin, pikiran akan mengakhiri hidup akan muncul kembali.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Viral! ODGJ Bantu Buka Jalan Ambulans di Bandung"
[Gambas:Video 20detik]