Jumat, 29 Nov 2019 18:45 WIB

Soal Operasi Selaput Dara yang Banyak Dilakukan, Ini Kata Ahlinya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Meski dibayangi kontroversi, operasi mengembalikan selaput dara banyak diminati (Foto: thinkstock)
Jakarta - Tanda keperawanan oleh awam ditandai dengan keadaan selaput dara yang masih dalam keadaan utuh. Padahal, selaput dara robek tidak selalu diartikan pernah berhubungan seks. Bisa karena kecelakaan, masturbasi, bahkan benda atau alat bantu kesehatan yang memang dimasukkan ke dalam vagina.

Namun, ada saja orang yang ingin selaput daranya kembali utuh seperti sebelumnya. Hal ini bisa dilakukan melalui operasi selaput dara.

Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi di RS Brawijaya Antasari, dr Dinda Derdameisya, SpOG, mengatakan tindakan operasi selaput dara memang ada. Hal ini dilakukan untuk mengembalikan 'keperawanan' pada wanita. Tepatnya, memulihkan kondisi selaput dara.

"Memang ada. Jadi operasi itu melakukan penyatuan kembali selaput dara yang bisa dilakukan, bila seorang perempuan ingin mengembalikan keperawanannya. Tapi, sebenarnya itu tidak ada indikasi medis sama sekali," ujar dr Dinda saat dihubungi detikcom, Jumat (29/11/2019).



Menurut dr Dinda, tindakan ini hanya dilakukan atas kehendak atau keinginan dari pasien tersebut. Biasanya, pasien melakukan ini agar bisa berdarah saat berhubungan.

"Karena kan kalau di budaya kita kan masih penting banget tuh perawan itu, terutama untuk adanya darah saat berhubungan seksual pertama kali," katanya.

Meskipun tidak ada indikasi medisnya, tindakan ini masih bisa dilakukan. Dari segi risiko, biasanya hanya efek anastesi saja. Itu terjadi karena saat prosesnya, biasanya akan dilakukan pembiusan pada pasiennya.

"Risikonya biasanya risiko anastesi karena kan dilakukan pembiusan. Untuk risiko lainnya sih nggak ada, karena itu adalah pengerjaan yang simpel sebenarnya," jelasnya.



Simak Video "Apakah Jenazah Pasien Corona Bisa Menularkan Virus? Ini Kata WHO!"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)