Senin, 02 Des 2019 17:40 WIB

Mitos Seputar HIV-AIDS, Menular Lewat Sentuhan Hingga Gigitan Nyamuk

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Beragam mitos seputar HIV-AIDS, dari sentuhan hingga gigitan nyamuk. Foto ilustrasi: (iStock) Beragam mitos seputar HIV-AIDS, dari sentuhan hingga gigitan nyamuk. Foto ilustrasi: (iStock)
Jakarta - HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah suatu virus yang bisa merusak sistem kekebalan tubuh manusia hingga tidak bisa bekerja secara efektif lagi. Meskipun gejalanya sering tidak terlihat, tapi biasanya pengidapnya akan mengalami flu sekitar 2-4 minggu setelah penularan. Virus ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk merusak sistem imun tubuh.

Sedangkan Acquired Immunodeficiency Syndrome atau AIDS adalah suatu kondisi yang disebabkan virus HIV dan kerusakannya semakin berkembang, serius, dan kompleks. Orang dengan AIDS bisa dideteksi dengan pemeriksaan jumlah sel imunnya. Jika jumlahnya di angka 200, dipastikan ia mengidap kondisi ini.

Tak hanya itu, HIV-AIDS juga memiliki berbagai mitos yang detikcom rangkum dari berbagai sumber.


1. Bisa tertular karena bersentuhan langsung

Banyak yang berpendapat, berkontak langsung secara fisik dapat menularkan HIV AIDS ini, tapi faktanya tidak sama sekali. Penyakit ini tidak bisa tertular hanya dengan berjabat tangan, minum dan makan bersama, berpelukan, bahkan memakai pakaian yang sama.

HIV dan AIDS hanya dapat menular lewat media penyebarannya biasanya melalui pertukaran cairan seperti transfusi darah, berhubungan seks, dan penggunaan jarum suntik. Selain itu, penyakit ini juga bisa ditularkan dari ibu ke bayi selama masa kehamilan, kelahiran, atau menyusui.

2. Bisa menular lewat gigitan nyamuk

Virus seperti HIV ini bisa ditularkan lewat transfusi darah, hingga banyak orang khawatir kalau penyakit ini dapat menyebar melalui gigitan nyamuk. Faktanya, di beberapa penelitian mengungkapkan hal itu tidak akan terjadi. Hal ini juga berlaku untuk AIDS, karena penyebabnya masih sama yaitu virus.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di daerah dengan banyak nyamuk, mereka tidak akan menyuntikkan darah orang yang sudah digigit sebelumnya. Selain itu, virus HIV yang didapatkannya hanya bertahan beberapa saat di tubuh nyamuk tersebut.

3. Pengobatan HIV-AIDS jangka panjang aman untuk tubuh

Pengobatan untuk mencegah HIV dan AIDS terus berkembang memang terbukti ada, yaitu pengobatan antiretroviral. Meskipun namanya pengobatan, hal ini tidak bisa menyembuhkan dan lepas dari efek samping.

Faktanya, penggunaan obat-obatan ini dalam jangka panjang belum bisa dipastikan aman untuk tubuh. Penelitian menunjukkan, hal ini bisa menyebabkan peradangan hingga meningkatkan risiko penyakit jantung sebesar dua kali lipat.

4. Pengidapnya tidak bisa punya keturunan

Jika wanita yang mengidap penyakit ini ditangani dengan pengobatan yang tepat, kemungkinan ia bisa hamil dengan sehat. Pengobatan inilah yang mencegah penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayinya. Jika si ibu menggunakan resep obat dengan benar, kemungkinan penularannya bisa kurang dari 1:100.

5. HIV dan AIDS ada obat penyembuhnya

Pengobatan HIV seperti antiretroviral memang ada, tapi itu hanya untuk mengendalikan virus HIV berkembang menjadi AIDS bukan menyembuhkannya. Hingga saat ini, penelitian belum menemukan obat yang benar-benar bisa mengobatinya. Justru jika pengobatan antiretroviral itu tidak segera dilakukan, akan lebih banyak orang yang meninggal karena AIDS atau HIV stadium 3 ini.



Simak Video "Obat HIV/AIDS Tersedia Gratis untuk Masyarakat"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/wdw)