Selasa, 03 Des 2019 19:41 WIB

Terungkap! Ternyata Begini Otak Manusia yang Ingin Bunuh Diri

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Ilustrasi bunuh diri. Foto: Thinkstock Ilustrasi bunuh diri. Foto: Thinkstock
Jakarta - Setiap tahun, tercatat ada 800.000 orang yang meninggal akibat bunuh diri di berbagai belahan dunia. Peristiwa ini juga dinobatkan sebagai penyebab kematian terbanyak kedua, dengan rentang usia 15-29 tahun. Melihat hal ini, para ahli terdorong untuk menelitinya.

Setelah dilakukan penelitian selama dua dekade, akhirnya ditemukan bahwa manusia memiliki dua jaringan otak yang dapat memicu dan meningkatkan risiko seseorang untuk bunuh diri.

"Bayangkan, kita punya penyakit yang bisa menewaskan hampir satu juga orang per tahunnya, bahkan sebagian dari mereka masih berusia di bawah 30 tahun. Kita harus meneliti apa penyebab yang sebenarnya," ujar salah satu peneliti, dr Anne Laura Van Harmelen.



Dikutip dari Dailymail, dalam penelitian yang dilakukan dr Anne dan timnya dari Universitas Cambridge, mereka mengamati perubahan struktur dan fungsi otak dari 12.000 orang peserta yang dilibatkan. Hasilnya, ditemukannya dua jaringan yang mendukung seseorang untuk melakukan bunuh diri.

Jaringan pertama, menghubungkan area otak frontal atau bagian depan. Bagian ini disebut dengan medial prefrontal cortex ventral dan lateral, yang berfungsi untuk mengatur emosi. Saat jaringan itu mengalami perubahan, maka akan menciptakan pikiran negatif yang berlebihan.

Untuk jaringan kedua, berfungsi untuk menghubungkan korteks prefrontal dorsal dan sistem girus frontal inferior. Bagian ini yang berperan aktif untuk mengambil keputusan serta mengendalikan perilaku. Jika jaringan ini mengalami perubahan, maka akan memengaruhi seseorang untuk melakukan bunuh diri.

"Dengan adanya penelitian ini, kami berharap dapat menemukan cara baru dan lebih baik lagi untuk mengurangi angka dan risiko seseorang untuk bunuh diri," kata salah satu profesor dari Yale School of Medicine AS, Profesor Hilary Blumberg

Peneliti lainnya, Dr Lianne Schmaal dari University of Melbourne di Australia juga berharap, penelitian ini bisa membantu tim medis untuk mengidentifikasi lebih awal dan ikut membantu mencegah terjadinya bunuh diri.



Simak Video "Hati-hati! Nyinyir di Medsos Tanda Kamu Kurang Empati"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/wdw)