Rabu, 04 Des 2019 07:58 WIB

70 Persen Kematian Pasien Emergency Terjadi dalam Perjalanan ke RS

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Evakuasi dengan helikopter bisa mempercepat penanganan pasien emergency (Foto: iStock) Evakuasi dengan helikopter bisa mempercepat penanganan pasien emergency (Foto: iStock)
Jakarta - Penanganan pasien gawat darurat harus selalu berpacu dengan waktu. Makin cepat tertangani, makin besar peluang pasien bisa selamat dengan diberi pertolongan yang tepat.

"Tujuh puluh persen angka kematian di Indonesia terjadi sebelum sampai di rumah sakit, 30 persennya meninggal di rumah sakit," kata dr Budi Sylvana, Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI, ditemui dalam Helicopter Emergency Medical Evacuation (HEMS) Training di UPN Veteran Jakarta, Selasa (4/11/2019).

Menurut dr Budi, salah satu faktor yang mempengaruhi adalah kurang maksimalnya penanganan prahospital yang umumnya dilakukan melalui jalur darat. Layanan emergency dengan helikopter, menurutnya bisa mempercepat penanganan.

"Memang tidak semua kasus emergensi membutuhkan helikopter. Akan tetapi di beberapa kasus juga membutuhkan helikopter, contoh kasus-kasus yang memerlukan respons tercepat sampai rumah sakit di event-event internasional tadi, seperti Asean games, SEA games, untuk mempercepat respons sampai ke rumah sakit," tambahnya.



Meski demikian, layanan helikopter ambulans di Indonesia dinilai masih belum optimal. Prosedur persiapan Emergency Medical Services (HEMS) termasuk yang disorot karena masih memakan waktu lama dibandingkan dengan di negara maju.

"Di Jerman helikopter akan menuju lokasi korban dalam waktu 2 menit saja. Beda dengan Indonesia, pengalaman dari kawan-kawan di Bali, dibutuhkan waktu 2 jam hanya untuk persiapan keberangkatan," kata dr Nur Muhamad Marheliansyah MSc, Area Manager Medical Sumbagsel (Sumatera Bagian Selatan) Pertamina, yang juga salah seorang peserta training.



Simak Video "Anjing Penghibur yang Bikin Pasien Kembali Sehat"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)