Seperti salah satu teman disabilitas, Vicente Mariano (36) asal Yogyakarta. Memiliki raga yang tak selengkap orang awam, ia tak pernah menyerah dalam menggapai masa depannya. Terbukti dengan kegigihannya ia berhasil menjadi seorang asisten manajer di salah satu Yayasan asal Inggris yang bergerak di bidang pelatihan disabilitas fisik dan pendiri Indonesia Amputee Football (INAF).
Menurut Vicente, ketika terlahir atau pun menjadi disabilitas tentunya akan mengalami banyak tantangan. Hanya saja kembali ke individu itu sendiri apakah dia memiliki mental yang kuat atau tidak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski masuk ke sekolah umum dan menjadi satu-satunya siswa disabilitas di sekolah, Vicente tak pernah putus asa walaupun kerap mendapat bullying. Ia justru terus bersemangat dan membuktikan bahwa ia mampu bersaing dengan orang normal.
Untuk memulai mencapai cita-citanya, ia bertekad untuk merantau ke Jakarta. Meski pada awalnya tak mendapat dukungan dari keluarga mengingat kondisi fisik dan regulasi tentang disabilitas belum ada, ia tetap membulatkan tekad dengan menanamkan motivasi dalam diri.
"Dalam artikel itu ada quote yang mengatakan bahwa dibalik kekurangan pasti ada kelebihan. Kata-kata itu buat motivasi saya, sehingga dengan prosesnya itu akhirnya saya memiliki kekuatan sendiri," tuturnya.
Selain itu, Vicente menanamkan motivasi bahwa disabilitas itu adalah keindahan di dalam kekurangan. Ia juga memiliki visi misi untuk kaum disabilitas saling menjaga, melindungi dan mensupport semua komponen disabilitas dari semua ragam disabilitas.
"Karena buat apa kita punya posisi tinggi, punya gelar tinggi tapi tidak bisa memberikan manfaat buat orang lain apalagi teman-teman disabilitas," pungkasnya.
(fds/fds)











































