Rabu, 11 Des 2019 19:30 WIB

Dari Prank Ojol Hingga Bunuh Diri, Kenapa Konten Prank Banyak Diminati?

Firdaus Anwar - detikHealth
Ilustrasi ojol yang sempat viral lantaran dijadikan konten prank. (Foto: Lamhot Aritonang)
Jakarta - Di media sosial ramai video prank, menunjukkan bagaimana seseorang dibuat 'menderita' dengan alasan hanya iseng atau bercanda. Seperti misalnya saja prank order fiktif ojek online (ojol), pura-pura gila, jadi hantu, hingga bunuh diri.

Mengapa sepertinya konten prank diminati oleh banyak orang di internet? Ahli kesehatan jiwa dr Andri, SpKJ, FAPM dari RS Omni Alam Sutra menjelaskan sebetulnya prank atau keisengan sudah cukup lama ada dan bisa dibagi jadi dua jenis.

Prank pertama adalah iseng yang tujuannya sebagai sarana untuk mempererat ikatan sosial seperti misalnya saat merayakan ulang tahun dan biasanya ini tidak merugikan. Sementara itu jenis prank kedua adalah yang memang sengaja dibuat untuk merundung atau bullying.


"Ini sebenarnya sudah cukup lama berlangsung. Tapi belakangan ini karena ada sosial media, prank jadi hal menarik karena disebarluaskan bukan lagi bersifat pribadi," kata dr Andri pada Rabu (11/12/2019).

"Menarik perhatian saya kenapa konten-konten prank ini di media sosial kita malah jadi trending. Jangan-jangan menurut saya masalahnya lebih karena orang itu sendiri senang sebenarnya melihat orang lain dikerjain. Ketika dia melihat konten itu menjadi tersalurkan rasa kepengen ngerjain orang, senang melihat orang mengalami 'penderitaan'," lanjutnya.

dr Andri berpesan agar para pencipta konten di media sosial lebih bijak tidak menciptakan hal negatif hanya demi menarik perhatian.

"Pilih konten yang baik jangan yang sifatnya membully, mengharassment, menyinggung agama serta fisik sehingga malah nanti bisa berkembang masalahnya," pungkas dr Andri.



Simak Video "Hati-hati! Nyinyir di Medsos Tanda Kamu Kurang Empati"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)