Jumat, 13 Des 2019 08:00 WIB

Seputar Batuk Rejan, Apa Bedanya dengan Batuk Biasa?

Virgina Maulita Putri - detikHealth
Seputar Batuk Rejan, Apa Bedanya dengan Batuk Biasa? Foto: shutterstock
Jakarta - Batuk rejan atau pertusis adalah infeksi pada paru-paru dan saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Infeksi ini mengakibatkan batuk parah yang bisa membuat penderitanya kesulitan bernapas.

Ciri batuk rejan dapat dikenali dari rentetan batuk keras yang didahului dengan tarikan napas panjang yang menyerupai bunyi "whoop". Seseorang bisa menderita penyakit ini hingga tiga bulan lamanya sehingga batuk rejan biasa disebut sebagai batuk 100 hari.



Berikut serba-serbi batuk rejan serta perbedaannya dengan batuk biasa yang dirangkum detikHealth:

1. Perbedaan dengan Batuk Biasa

Ada beberapa ciri batuk rejan yang dapat langsung dikenali. Batuk rejan bisa diawali dengan tarikan napas panjang melalui mulut yang diikuti dengan rentetan batuk keras.

Batuk rejan bisa menyebabkan penderitanya mengalami kekurangan oksigen di dalam darah. Bahkan jika tidak segera ditangani penyakit ini bisa memicu terjadinya komplikasi, misalnya pneumonia.

Penyakit ini sangat menular dan bisa menyebar dengan cepat dari satu orang ke orang lainnya. Jika sudah sangat parah, kondisi ini bisa menyebabkan seseorang mengalami luka di tulang rusuk karena batuk yang sangat keras.

2. Penyebab dan Faktor Risiko

Batuk rejan disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Penularannya sama seperti batuk biasa, jika seseorang yang terinfeksi batuk atau bersin, tetesan yang mengandung kuman menyebar di udara dan dihirup oleh siapa saja yang kebetulan berada di dekatnya.

Demografi yang paling rawan menderita batuk rejan adalah bayi dan balita yang tidak mendapatkan vaksin. Selain itu, vaksin ini lama-lama habis ketika sudah mencapai usia remaja dan dewasa, sehingga mereka juga rentan terhadap infeksi.

3. Gejala Batuk Rejan

Periode inkubasi batuk rejan biasanya memakan waktu 5-10 hari. Tapi gejalanya mungkin baru akan muncul setelah tiga minggu.

Gejala awal yang muncul menyerupai flu biasa termasuk pilek, batuk dan demam. Dalam dua minggu, batuk kering dan terus-terusan bisa muncul yang membuat sulit bernapas.

Batuk yang parah ini biasanya diikuti oleh gejala lain seperti muntah, kulit berwarna biru atau ungu di sekitar mulut, dehidrasi, demam, kesulitan bernapas dan kelelahan.



4. Pengobatan Batuk Rejan

Segera hubungi dokter jika batuk yang terus-terusan menyebabkan kalian atau anak-anak kalian menderita kondisi seperti muntah, warna kulit berubah menjadi merah atau biru, kesulitan bernapas dan membuat suara "whoop" ketika menarik napas.

Untuk balita dan anak-anak yang menderita batuk rejan harus dirawat di rumah sakit, untuk observasi dan dukungan pernapasan. Beberapa mungkin memerlukan cairan via infus jika mengalami dehidrasi.

Karena batuk rejan merupakan infeksi bakteri, antibiotik merupakan obat utama yang digunakan untuk mengobati infeksi. Tapi antibiotik tidak bisa digunakan untuk mencegah atau mengobati batuk secara langsung.

Selain itu, tidak disarankan untuk mengobati batuk rejan dengan obat batuk biasa karena tidak akan mempengaruhi gejala batuk rejan.

5. Risiko Komplikasi

Balita yang menderita batuk rejan harus terus diawasi untuk mencegah potensi komplikasi yang serius karena kekurangan oksigen. Beberapa komplikasi yang bisa terjadi antara lain kerusakan otak, pneumonia, kejang-kejang, pendarahan di otak, apnea, konvulsi hingga kematian.

Untuk anak-anak, remaja dan dewasa juga berpotensi mengalami komplikasi seperti kesulitan tidur, kesulitan mengontrol buang air kecil, pneumonia dan patah tulang rusuk.

6. Pencegahan

Cara mencegah batuk rejan yang paling utama adalah dengan vaksin pertusis. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyarankan vaksin untuk diberikan kepada balita dan anak-anak berusia:

- 2 bulan

- 4 bulan

- 6 bulan

- 15-18 bulan

- 4-6 tahun



Simak Video "5 Tips Aman ala dr Reisa agar Terhindar COVID-19 Saat Terima Paket"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/erd)