Senin, 16 Des 2019 18:06 WIB

Viral Anak Dimarahi karena Dapat Ranking 3, Efektifkah Pola Asuh 'Keras'?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Beredar video ibu marahi anaknya karena hanya mendapat rangking 3. (Foto ilustrasi: Istock)
Jakarta - Beredarnya video anak dimarahi karena hanya mendapat ranking 3, menjadi bukti anak kerap kali dituntut orang tua untuk selalu menjadi yang terbaik. Namun, bila target tidak sesuai kenyataan bagaimana seharusnya orang tua mulai menyikapi anak?

Memarahi anak rupanya tidak selalu baik meskipun memiliki niat yang baik. Dicontohkan dalam viralnya anak yang dimarahi karena ranking 3, psikolog meyakini anak bisa mendapatkan dampak yang serius akibat fenomena tersebut.

"Seharusnya orang tua menciptakan diskusi dengan anak. Contohnya, seperti menjelaskan pada anak soal aturan-aturan yang dibuat. Jadi anak lebih mengerti. Itu dilakukan secara konsisten. Namanya pola asuh autoritatif. Sederhananya, orang tua nggak berperilaku begitu saja, dan nerima anak gitu saja," ujar psikolog Dr Nilam Widyarini, MSi, dari Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma saat dihubungi detikcom, Senin (16/12/2019).


Memarahi anak tak membentuk mental anak menjadi kuat. Nilam menjelaskan, anak tersebut nantinya berpotensi menjadi pribadi yang senang 'melawan', tak memiliki kepercayaan pada keluarga, dan berpotensi memiliki keinginan untuk keluar dari lingkungan keluarga mencari lingkungan baru.

"Apalagi bila itu dilakukan sejak kecil, nantinya dia punya bayangan trauma ke depannya, karena di usia yang sedini itu anak sangat membutuhkan kehangatan, rasa aman, dari keluarganya," pungkasnya.



Simak Video "Keresahan Dokter Perihal Thermo Gun yang Ditembak di Tangan "
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)