Jumat, 20 Des 2019 09:11 WIB

Kaleidoskop Kesehatan 2019

Januari: Serangan Nyamuk DB Hingga Heboh Putus Kontrak RS-BPJS Kesehatan

Firdaus Anwar - detikHealth
Marak kasus demam berdarah di bulan Januari 2019. (Foto: Thinkstock
Jakarta - Memulai tahun 2019 ada beberapa isu kesehatan yang ramai diperbincangkan. Di malam pergantian tahun misalnya sempat beredar hoax penyakit yang bisa disebarkan oleh terompet mulai dari tuberkulosis hingga HIV.

Setelah itu heboh juga laporan kasus demam berdarah dan beberapa rumah sakit sempat putus kontrak dengan BPJS Kesehatan.

Berikut ulasan lengkapnya:

1. Hoax terompet tahun baru

Setiap menjelang tahun baru, broadcast tentang penularan penyakit melalui tiupan trompet atau terompet selalu beredar. Mulai dari TBC/TB (Tuberkulosis), HIV (Human Imunodieficiency Virus), hingga kanker mulut.

Soal risiko penularan TB, dokter spesialis paru RSUP Persahabatan, dr RR Diah Handayani, SpP(K), mengatakan bahwa beberapa jenis kuman bisa menular lewat udara. Apabila trompet digunakan secara bergantian dengan seseorang yang sedang sakit, maka ada risiko yang perlu diwaspadai.

Sedangkan soal risiko kanker mulut yang menular lewat terompet, konsultan saluran cerna Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, FINASIM, memastikan hal itu cuma hoax alias kabar bohong. Ia bahkan meyakini, sudah banyak yang tahu kabar itu tidak benar.

"Kanker termasuk kanker mulut, lidah atau kanker darah tidak dapat menular dari satu orang ke orang lain," kata dr Ari.


2. Heboh peragaan alat KB

Sekitar akhir Januari sempat viral video edukasi kesehatan reproduksi oleh staf Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN). Video tersebut memperlihatkan teknis pemasangan kondom pada alat kelamin pria oleh penyuluh wanita.

Penjelasan disertai alat peraga penis yang dalam posisi ereksi sempurna, serta anatomi kelamin laki-laki.

"Harus diperjelas ya. Mana kondomnya," ujar penyuluh yang dikelilingi peserta yang terdiri atas emak-emak. Semua yang mendengar heboh dan senyum-senyum, namun tampak penasaran dengan alat peraga.

BKKBN menanggapi dengan mengeluarkan siaran pers menjelaskan bahwa memang para tenaga terlatih biasa menggunakan alat peraga untuk menyampaikan informasi KB. Namun demikian proses edukasi tersebut seharusnya tidak direkam dan disebarluaskan karena melanggar etika.

Video yang viral di media sosial itu sendiri diambil dari kegiatan penyuluhan KB di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.


3. Serangan nyamuk DBD

Bulan Januari 2019 melihat adanya peningkatan kasus demam berdarah di berbagai daerah. Dinas Kesehatan DKI Jakarta misalnya per tanggal 27 Januari melihat ada 613 kasus, jauh lebih banyak dari tahun lalu pada periode sama yang sama yaitu hanya sekitar 198 kasus.

"Ada pembeda dibanding tahun sebelumnya misal sistem imun warga, kepadatan nyamuk, tingkat infeksi virus, dan iklim. Untuk iklim, kelembaban tahun ini lebih tinggi daripada sebelumnya," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Widyastuti, Senin (28/01/2019).

Data Kesakitan dari Kementerian Kesehatan per 29 Januari 2019, tercatat 13.683 pasien yang terjangkit demam berdarah dan 133 meninggal dunia. Daerah tertinggi diduduki oleh Jawa Timur dengan 2.657 pasien, kemudian disusul oleh Jawa Barat dengan 2.008 pasien, dan Nusa Tenggara Timur 1.169 pasien.

Ada yang menarik karena beberapa kolektor ikan cupang dilaporkan rela melepaskan peliharaan kesayangannya ke saluran air. Tujuannya untuk membantu mengendalikan jumlah jentik sehingga kasus penularan demam berdarah bisa segera menurun.

Kementerian Kesehatan melaporkan tren penularan demam berdarah akhirnya mulai turun pada 8 Februari. Data terakhir menyebut sebanyak lebih dari 19 ribu orang tertular dan 180 meninggal dunia.


4. Sertifikat layak kawin Dinkes DKI Jakarta

Enggak kalah populer, setiap calon pengantin di DKI Jakarta diwajibkan menjalani konseling dan tes kesehatan sebelum menikah. Lolos tes, calon pengantin akan mendapat secarik 'Sertifikat Layak Kawin'.

Persyaratan ini tercantum dalam Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Nomor 185 Tahun 2017 Tentang Konseling dan Pemeriksaan Kesehatan Bagi Calon Pengantin. Mulai berlaku sejak tahun 2018 di puskesmas dan menjadi syarat untuk mengurus pengantar menikah dari kelurahan.

Tes kesehatan yang dilalui cukup banyak. Mulai dari tes darah rutin, hemoglobin, leukosit, HIV (Human Imunodeficiency Virus) dan Hepatitis. Catin perempuan juga harus diimuninasi TT (tetanus toxoid).

Dari twitter detikHealth hingga pukul 11.00, sebanyak 51 persen netizen dari 1.928 pemilih belum mengetahuinya. Sementara dari twitter detikcom, 56 persen netizen dari 1.050 pemilih yang belum tahu.


5. Putus kontrak RS-BPJS Kesehatan

Awal Januari masyarakat dihebohkan dengan kabar sejumlah rumah sakit (RS) putus kontrak dengan BPJS Kesehatan. Muncul kekhawatiran akan ada pasien tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Fachmi Idris, menjelaskan adanya pemutusan kontrak kerja sama antara rumah sakit dan pihak BPJS Kesehatan karena berbagai faktor. Mulai dari akreditasi tidak diperpanjang hingga wanprestasi.

Akhirnya Kementerian Kesehatan bergerak mengeluarkan dua surat rekomendasi perpanjangan kontrak kerja sama bagi rumah sakit yang belum terakreditasi. Harapannya rumah sakit dapat tetap melayani pasien BPJS Kesehatan sambil tetap mengurus akreditasi yang diperpanjang hingga 30 Juni 2019.

"Kemenkes memberi kesempatan kepada RS yang belum melaksanakan akreditasi untuk melakukan pembenahan dan perbaikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan," kata Menteri Kesehatan Nila F Moeloek.



Simak Video "Studi Terbaru Sebut Demam Berdarah Bikin Kebal Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)