Minggu, 29 Des 2019 17:16 WIB

Kaleidoskop Kesehatan 2019

Oktober: Terawan Jadi Menkes dan Challenge Duduk Silang ala Jokowi

Firdaus Anwar - detikHealth
Gaya duduk Jokowi bikin penasaran. (Foto: tangkapan layar viral)
Jakarta - Kabar kesehatan di bulan Oktober ramai oleh peristiwa pengangkatan dr Terawan Agus Putranto sebagai Menteri Kesehatan. Jadi menarik karena sosok dr Terawan sebelumnya diberitakan menghadapi sanksi Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Indonesia (MKEK), Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri juga menjadi perhatian karena gaya duduknya saat mengenalkan para menteri baru dinilai tidak biasa. Ia duduk dengan kaki silang yang membuat instruktur yoga sekalipun keheranan.

Berikut rangkuman detikcom, kaleidoskop berita kesehatan bulan Oktober 2019:

1. Menkes Terawan

dr Terawan Agus Putranto resmi menjadi Menteri Kesehatan (Menkes) di Kabinet Indonesia Maju. Ia dikenal sebagai sosok yang mempopulerkan terapi 'cuci otak' dan karena itu pernah tersandung kasus pelanggaran kode etik.

Tidak lama setelah pengumuman kabinet baru oleh Presiden Jokowi, beredar surat dari Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Indonesia (MKEK), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), yang ternyata sempat menolak rekomendasi dr Terawan sebagai Menkes.

Pada akhirnya Menkes Terawan dan IDI berekonsiliasi. Menkes Terawan menyambangi Ketua IDI dr Daeng M Faqih di kantor Pengurus Besar IDI, Menteng, Jakarta Pusat, pada tanggal 30 Oktober.

"Saya dengan beliau selaku ketua IDI dan saya selaku pelayan beliau sebagai Menteri Kesehatan kan pelayan, melayani apa keinginan beliau, apa yang harus saya wadahi, demi kemashlahatan umat dalam bidang kesehatan nasional," kata Menkes Terawan.


2. Duduk sila ala Jokowi

Posisi duduk kaki Jokowi saat lesehan di tangga Istana mengenalkan para menterinya menarik perhatian publik. Cara duduk Jokowi menjadi perbincangan karena kakinya terlihat menyilang dan menekuk-nekuk.

Instruktur yoga Astrid Amalia mengatakan dirinya kagum melihat kelenturan kaki Jokowi. Menurutnya, tidak semua orang bisa melakukannya karena susah.

"Saya yang guru yoga aja kagum dengan kelenturan Jokowi. Hanya orang tertentu saja yang bisa," katanya.

Di media sosial ramai tantangan duduk seperti Jokowi. Artis sekalis pelatih yoga, Anjasmara, sampai ikut meramaikan #jokowichallenge membuktikan kelenturan tubuhnya.


3. Narkoba dalam vape

Artis Vicky Nitinegoro ramai dibincangkan ketika dirinya diamankan Polda Metro Jaya karena dugaan penyalahgunaan narkoba dalam cairan rokok elektrik atau vape. Pada akhirnya Vicky dilepaskan karena tidak terdeksi menggunakan narkoba dan cairan vape berisi narkoba yang disita bukan miliknya.

Terkait hal tersebut dr Hari Nugroho dari Institute of Mental Health Addiction And Neurosience (IMAN) pernah menyebut memang saat ini makin marak penyalahgunaan narkoba berkaitan dengan penggunaan vape atau rokok elektrik. Menurut dr Hari narkoba cair ini sering disamarkan jadi liquid vape.

Indonesia tidak memiliki regulasi khusus yang mengatur kandungan liquid vape. Hal ini yang disebut-sebut beberapa ahli jadi salah satu faktor membuat narkoba cair rentan disalahgunakan dibuat seolah-olah jadi liquid vape sehingga lolos pengawasan.


4. Masuk RSJ karena kecanduan ponsel

Bertumbuhnya tren pemakaian gawai di antara masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak, membawa masalah baru. Ramai dilaporkan puluhan orang harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) karena mengalami masalah kecanduan.

Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Cisarua Provinsi Jawa Barat contohnya dilaporkan dalam sebulan bisa menangani hingga 12 pasien anak-anak yang kecanduan ponsel. Sementara itu di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta sejak tahun ajaran baru menerima sebanyak 35 pasien remaja kecanduan ponsel.

Sebagian besar pasien dirawat spesifiknya karena mengalami kecanduan game.


5. Obat asam lambung ranitidin ditarik

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan menarik sebagian peredaran obat asam lambung ranitidin dari pasaran. Dalam edaran dijelaskan ada kekhawatiran obat tercemar oleh N-Nitrosodimethylamine (NDMA).

Dijelaskan, nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan adalah 96 ng/hari (acceptable daily intake). Sementara itu hasil uji BPOM terhadap sejumlah sampel obat menemukan sebagian mengandung cemaran NDMA dengan jumlah melebihi batas yang diperbolehkan.

NDMA sendiri adalah senyawa karsinogenik (bisa memicu kanker) jika dikonsumsi di atas ambang batas secara terus menerus dalam jangka waktu lama.

Hanya obat ranitidin yang terbukti memiliki NDMA di bawah ambang batas boleh diedarkan.



Simak Video "Kemesraan Menkes Terawan dengan IDI Bicara Soal JKN"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)