Senin, 13 Jan 2020 11:22 WIB

Cara Cerdas Atasi Alergi Susu Sapi pada Anak

Akfa Nasrulhak - detikHealth
Foto: Shutterstock
Jakarta - Setiap orang tua pasti menginginkan si kecil tumbuh sehat dan cerdas. Saat baru lahir ke dunia, susu yang paling baik untuk diberikan kepada si kecil adalah Air Susu Ibu (ASI).

Head of Medical Kalbe Nutritionals dr Muliaman Mansyur mengatakan ASI adalah makanan satu-satunya yang boleh diberikan untuk bayi di bawah 6 bulan. Bahkan pemberian air putih pun tidak dianjurkan.

ASI menjadi makanan terbaik buat bayi 0-6 bulan karena kandungan nutrisi yang begitu lengkap, tak hanya pertumbuhan tubuh ataupun otaknya saja yang berkembang secara optimal. ASI juga membantu membentuk hubungan yang lebih erat antara ibu dan bayinya.


"Bagi ibu sendiri, memberikan ASI juga baik untuk diet. Saat menyusui, banyak kalori yang terbakar. Jadi meski tidak melakukan diet menurunkan berat badan sekalipun, berat badan sang ibu akan kembali normal setelah memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan," ujar dr Muliaman kepada detikHealth baru-baru ini.

Namun, tidak semua bayi dapat menerima asupan ASI karena terdapat beberapa faktor seperti bunda memiliki masalah produksi ASI. Jika si kecil mengalami kondisi tersebut, bunda bisa memberikan si kecil susu formula anak. Namun, memilih susu formula pun, bunda harus cerdas memilih karena sebagian anak berpotensi mengalami alergi susu sapi.

"Penyebab alergi pada bayi dan anak ada 2 macam yaitu karena faktor genetik dan lingkungan. Genetik memainkan peran penting dalam terjadinya alergi pada bayi. Jika kedua orang tua memiliki riwayat alergi, maka bayi dapat berisiko mengalami alergi hingga 80%. Jika salah satu orang tua yg mengalami alergi hampir 40-60% anak juga akan menderita alergi," jelas dr Muliaman.

Faktor kedua yang sering menjadi penyebab terjadinya alergi pada bayi adalah paparan, bisa karena paparan makanan dan lingkungan. Menurut dr Muliaman, paparan lingkungan lebih jarang ditemui dibandingkan alergi yang disebabkan oleh makanan.

"Pada anak yang alergi, maka tubuh akan mencoba membentuk antibodi atau zat anti, seiring bertambahnya usia dan anak mulai dan sering terpapar dengan alergen. Misal anak alergi susu sapi pada saat 6 bulanan mereka sudah dapat MPASI dan mulai terpapar tidak sengaja dengan produk susu seperti roti keju ice cream dan tubuh si kecil mulai mengenalnya. Ketika usia 2-3 tahun pada anak-anak ini mulai tolerance dengan protein susu sapi, walau beberapa anak yang alergi berat dia tetap tidak bisa mengonsumsi produk yang mengandung susu," bebernya.

Pada anak yang alergi susu sapi, artinya ia tidak bisa mencerna protein susu sapi. Maka harus dipilihkan susu pengganti pada anak tersebut. Menurut dr Muliaman, saat ini susu yang direkomendasikan adalah pemberian asam amino. Tapi karena alasan mahal dan susah dicari maka isolat protein kedelai adalah pilihan selanjutnya bukan susu kambing, susu kuda atau susu yang lain yang belum teruji secara klinis.


"Saat ini teknologi susu kedelai sudah semakin maju karena bukan susu kedelai biasa yang masih akan terjadi alergi tapi isolat protein kedelai dengan penambahan asam amino dan pemberian nutrisi lain seperti nutrisi untuk otak AA DHA fosfolipid, kolin. Nutrisi untuk tumbuh kembang seperti kalsium dan penambahan asam amino serta pemberian prebiotik FOS dan probiotik terutama bifidobakterium untuk pencegahan dan mengurangi gejala alergi," beber dr Muliaman.

Pemberian bifidobakterium ini sudah banyak yang membuktikan manfaatnya mengurangi gejala yang timbul. Karenanya, bagi anak yang alergi susu sapi, bunda bisa memilih susu alternatif seperti susu Morinaga Soya, yang juga mengandung probiotik bifisobacterium dan nutrisi lain yang tak kalah lengkap dibandingkan susu formula berbasis susu sapi. Jadi Anak alergi tetap cerdas dan tumbuh optimal seperti anak yang lain.

Simak Video "Wabah COVID-19, Status Korea Selatan Naik jadi 'Gawat'"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/up)