Jumat, 17 Jan 2020 13:15 WIB

Konsumsi Kopi Berlebih Bisa Idap Kardiometabolik, Apa Itu?

Alfi Kholisdinuka - detikHealth
Foto: shutterstock
Jakarta - Minum kopi kini sudah jadi gaya hidup masyarakat Indonesia. Terbukti, berdasarkan catatan International Coffee Organization (ICO), konsumsi kopi nasional melonjak 174% pada 2016. Hal ini tak mengherankan jika banyak masyarakat Indonesia mengonsumsi kopi lebih dari 3-4 cangkir setiap hari.

Namun, selain manfaatnya yang bisa meningkatkan energi, mood dan menghilangkan kantuk. Terlalu banyak minum kopi ternyata dapat memicu terjadinya serangan jantung pada sebagian orang hingga terserang penyakit kardiometabolik, benarkah demikian?

Medical Marketing Nutrigen-ME Dr. Amanda mengatakan kopi pada dasarnya tidak menyebabkan penyakit jantung. Kafein pada kopilah yang bisa mempengaruhi jantung. Hal ini juga tergantung pada kemampuan metobolisme genetik seseorang dalam mencerna kafein.


"Pada penelitian di bidang nutrigenomik, terdapat 2 tipe genetik. Ada yang slow metabolizer ada juga yang fast metabolizer. Bagi yang slow metabolizer artinya tidak mampu memecah kafein yang masuk ke tubuh dengan cepat, sehingga efek kafein dalam tubuh menjadi memanjang," ujarnya kepada detikHealth baru-baru ini.

"Penelitian ini juga menunjukkan pada golongan caffeine slow metabolizer risiko untuk terkena serangan jantung meningkat tajam ketika seseorang terbiasa konsumsi caffeine lebih dari 2 cangkir per hari," imbuhnya.

Dr Amanda menuturkan sementara penyakit kardiometabolik tersebut juga berhubungan dengan penyakit jantung, pembuluh darah, dan kelainan metabolisme tubuh. Ini saling terkait antara satu penyakit dan penyakit lainnya. Contohnya, jantung koroner, darah tinggi, diabetes melitus, stroke, gagal ginjal, dan lain
nya.

"Proses penyakit ini tidak seperti infeksi virus yang bisa cepat memiliki gejala sesaat setelah virus masuk ke dalam tubuh, butuh waktu bertahun-tahun untuk menimbulkan gejala. Namun, bermacam gejala yang muncul di awal periode penyakit kardiometabolik ini, orang biasanya mudah lelah, kepala terasa berat, serta jantung berdebar," jelasnya.


Ia menyebutkan akibat perubahan pola hidup yang tidak sehat yang dimulai sejak dini termasuk minum kopi berlebih. Kini banyak kejadian serangan jantung yang menimpa seseorang pada usia kurang dari 40 tahun. Untuk itu, perlu upaya pencegahan secara personal dalam mencegah kardiometabolik ini.

"Pemeriksaan nutrigenomik dalam hal ini mampu memprediksi risiko penyakit dan memberikan informasi detil seperti nutrisi yang sebaiknya dikonsumsi, olah raga yang sebaiknya dilakukan, serta suplementasi apa yang sebaiknya dikejar untuk menghindari munculnya penyakit pada masing-masing orang," pungkasnya.

Sebagai alternatif, Anda bisa melakukan pemeriksaan Nutrigen-Me. Sebuah pemeriksaan genetik menggunakan air ludah sebagai sampel untuk mengetahui hubungan konsumsi makanan dengan penyakit kardiometabolik.

Pemeriksaan ini tidak menggunakan darah karena kandungan DNA darah, rambut maupun mukosa dinding mulut adalah sama sehingga untuk pasien akan sangat praktis, nyaman, non invasif, terhindar risiko infeksi, dan cepat. Pemeriksaan ini pun hanya dilakukan sekali seumur hidup, dan hasilnya berupa profil genetik terkait gaya hidup sehat yang bisa dilakukan. (ega/ega)