Kamis, 23 Jan 2020 12:28 WIB

Tetap Gemuk meski Sudah Diet dan Olahraga, Pengaruh Gen?

Akfa Nasrulhak - detikHealth
Foto: shutterstock
Jakarta -

Diet dengan membatasi kalori atau makanan tertentu menjadi syarat untuk menurunkan berat badan. Namun, tak sedikit orang mengeluhkan berat badannya tak kunjung turun meski sudah diet dan berolahraga. Sebaliknya, ada juga orang yang makan tidak diatur tetapi tubuhnya selalu langsing.

Hal itu karena setiap orang memiliki perbedaan untuk memenuhi nutrisi yang dibutuhkan. Hal ini pula yang mungkin menjawab mengapa program diet tertentu tak berfungsi sama pada setiap orang.

Untuk itulah, hadir diet DNA yang diatur berdasarkan faktor genetik seseorang. Selain mempengaruhi warna mata dan postur tubuh, warisan DNA orang tua juga mencakup sifat-sifat yang lebih kompleks seperti risiko penyakit dan semua aspek metabolisme, termasuk nutrisi.

"Jadi sebenarnya DNA itu ibarat 'blue print' kita, sifat asli tubuh kita. DNA itu seperti pita yang sangat panjang dan terpilih, jika dipotong menjadi segmen-segmen, DNA disebut dengan gen. Nah gen ini mengatur hampir seluruh aktivitas tubuh kita, dia berperan sebagai pembawa sifat untuk manusia," jelas Medical Marketing Nutrigen-ME dr Amanda, kepada detikHealth, baru-baru ini.

dr Amanda mencontohkan yang terkait dengan kesehatan, seperti gen UCP1 yang disebut juga 'gen gemuk'. Gen ini berfungsi mengatur pembakaran kalori dalam tubuh terutama ketika seseorang sedang beristirahat.

"Ada orang yang gen UCP1-nya kurang optimal, sehingga ketika dia beristirahat, hanya sedikit kalori yang bisa dibakar. Hal ini membuat orang tersebut mudah mengalami kenaikan berat badan terutama jika memiliki kebiasaan makan malam sebelum tidur," jelasnya.

Hal itulah yang menunjukkan bahwa DNA memang berpengaruh terhadap kesehatan serta bagaimana tubuh merespons nutrisi dan kebiasaan olahraga. Sehingga setiap tubuh seseorang, memiliki perbedaan, termasuk dalam hal diet sesuai dengan variasi gen masing-masing.

"Akan sangat bermanfaat ketika kita mengetahui sedini mungkin respons gen kita terhadap nutrisi dan olahraga. Misalnya ketika kita mengalami obesitas dan ingin mendapat berat badan ideal. Jika kita mengetahui sifat asli gen kita, kita bisa dengan efektif dan efisien memilih cara untuk diet yang sesuai dengan sifat tubuh kita, tidak perlu coba-coba metode-metode lain lagi," ujar dr Amanda.

"Kalau kita tahu sifat gen kita, maka kita bisa dipandu oleh dokter untuk menjalankan cara diet yang paling efektif sesuai sifat gen kita. Cara ini bukan cara coba-coba, melainkan sudah terstandar secara evidence based clinical trial," tambahnya.

Ilmu yang mempelajari hubungan gen dengan kesehatan ini disebut nutrigenomik. Anda bisa melakukan pengujian Nutrigenomik untuk mengetahui informasi diet terperinci berdasarkan DNA Anda. Karena itu sebaiknya Anda melakukan cek medis dengan tes nutrigenomik, salah satunya layanan tes medis tersebut bisa didapatkan dari Kalbe lewat program Nutrigen-me.

Nutrigen-Me bertujuan untuk mendapatkan hasil profil genetik seseorang. Menurut dr Amanda, untuk panel weight management and body composition hasilnya akan sangat spesifik sesuai kebutuhan diet setiap orang, sehingga klasifikasi rasanya sulit, karena memang tes ini bersifat sangat personal.

"Ada satu contoh variasi gen seseorang yang responsnya sangat baik terhadap golongan protein, maka ketika diberi rekomendasi 'diet tinggi protein' maka hasilnya sangat baik dalam hal penurunan masa lemak tubuh," jelasnya.

Nutrigen-Me adalah pemeriksaan gen yang pengambilannya melalui saliva (air liur) kemudian dalam 3-4 minggu hasilnya akan jadi berupa profil 76 gen. Hasil dari tes nutrigenme ini berlaku seumur hidup.

Tes ini hanya sekali seumur hidup. Dari hasilnya, dokter dapat memberi rekomendasi dan penyusunan makanan sesuai dengan gen masing-masing. Rekomendasi jenis olahraga yang dibutuhkan, dan suplemen yang sebaiknya dikejar.



Simak Video "Sudah Diet Tapi Tak Kunjung Kurus? Ini Tips Ampuhnya"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/up)