Selasa, 28 Jan 2020 12:04 WIB

70 Ribu Rumah Tak Layak Huni Jadi Penyebab Tingginya TBC di Garut

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Young woman got nose allergy, flu sneezing nose Infeksi tuberkulosis ditandai dengan batuk yang tak sembuh-sembuh, kadang disertai bercak darah (Foto: iStock)
Garut -

Kabupaten Garut merupakan salah satu kabupaten dengan target penemuan kasus Tubercolosis (TB) yang cukup tinggi di Jawa Barat.

Bupati Garut Rudy Gunawan memaparkan, jumlah penduduk di Garut mencapai sekitar 2,7 juta penduduk berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Sebelumnya di tahun 2000 hingga 2014, Kabupaten Garut masih berstatus daerah tertinggal disebabkan karena banyak faktor, salah satunya persoalan rumah tidak layak huni.

Menurutnya, banyaknya rumah tidak layak huni menjadi salah satu faktor seseorang terkena Tubercolosis (TB atau TBC).

"Kami dihadapkan kepada persoalan yang berhubungan dengan rumah layak huni. Kami di Garut berdasarkan data sekitar 70 ribu rumah masih tidak layak huni, masih banyak rumah dari bambu, rumah itu sudah berusia lanjut sehingga ada bakteri," jelasnya saat ditemui di Kantor Bupati Garut, Kabupaten Garut, Selasa (28/1/2020).

Menurutnya, rumah di Garut masih banyak yang belum memiliki fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang memadai, dan tidak ada ventilasi untuk masuknya sinar matahari yang akhirnya menyebabkan tuberculosis.

Ia berharap di tahun 2024 persoalan tubercolosis yang ada di Garut bisa teratasi melalui upaya yang saat ini tengah dilakukan dengan meningkatkan akses kesehatan yang lebih baik. Rudy juga menyampaikan, sebanyak Rp 10 miliar telah disiapkan untuk mengatasi rumah tidak layak huni.

"Rp 10 miliar yang disediakan untuk rumah tidak layak huni," pungkasnya.



Simak Video "Tantangan Pengendalian TBC di Masa Pandemi COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)