Senin, 03 Feb 2020 15:03 WIB

Pasca Evakuasi dari Wuhan, Amankah Naik Pesawat dari Maskapai yang Sama?

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Pesawat tipe A-330 milik Batik Air melakukan persiapan untuk menjemput Warga Negara Indonesia (WNI) di Wuhan, China, di Bandara Soekarno-Hatta, Tanggerang, Sabtu (1/2/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/gp/hp. Pesawat tipe A-330 milik Batik Air melakukan persiapan untuk menjemput Warga Negara Indonesia (WNI) di Wuhan, China, di Bandara Soekarno-Hatta, Tanggerang, Sabtu (1/2/2020). (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)
Jakarta -

Lebih dari 200 warga negara Indonesia (WNI) dievakuasi dari Wuhan, China ke Indonesia. Proses evakuasi dilakukan dengan menggunakan pesawat Airbus 330-300CEO milik maskapai Batik Air.

Namun setelah itu banyak warganet yang merasa takut untuk bepergian menggunakan pesawat Batik Air, lantaran khawatir virus corona masih menempel di dalam pesawat.

"Pesawat Batik Air kan nggak cuma satu di Indonesia, aku rasa agak berlebihan deh kalau seperti itu," kata ahli penyakit tropis dan infeksi, dari RS Metropolitan Medical Center, Jakarta Selatan, Dr dr Erni Juwita Nelwan, SpPD-KPTI, Senin (3/2/2020).

Menurutnya virus corona akan sensitif terhadap panas sehingga akan mati dengan sendirinya. Terlebih lagi jika di ruangan observasi pesawat Batik Air yang mengevakuasi WNI, mempunyai temperatur udara yang cukup tinggi, maka virusnya tidak akan bisa bertahan hidup.

Sementara itu dr Erni juga menjelaskan adanya perbedaan kondisi antara Indonesia dengan Wuhan, China, yang menyebabkan virus corona terus menyebar.

"Nah sekarang kan coba saja kita lihat, kenapa di China atau di Wuhan khususnya virusnya gampang sekali virusnya untuk terus-menerus menyebar, karena di sana itu masih musim dingin kan? Jadi virusnya itu nggak mudah mati di udara," pungkasnya.



Simak Video "Mengenal 'Remdesivir' yang Digadang Jadi Antivirus Corona 2019-nCoV"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)