Senin, 03 Feb 2020 16:09 WIB

Kemungkinan Penyebab Angka Penularan Virus Corona Mencapai 14 Ribu Kasus

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Imbas Virus Corona yang merebak dan menelan ratusan korban jiwa kini mulai menggoyang ekonomi China dan beberapa negara di Asia seperti Jepang. Pasar saham China pun ambruk sejak pembukaan perdagangan. Jumlah kasus virus corona meningkat dengan sangat pesat (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Secara global, sampai saat ini tercatat 14.557 orang yang telah terinfeksi virus corona 2019-nCoV dengan 142 kasus di antaranya terjadi di negara luar China dan korban meninggal sebanyak 304 orang. Melihat hal ini, dunia makin meningkatkan kewaspadaannya mengingat 1 korban meninggal diketahui belum pernah ke Wuhan.

Meski angka kematiannya masih cukup rendah, namun tingkat infeksinya dianggap sudah mengkhawatirkan. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, dr Anung Sugihantono, mengatakan peningkatan kasus infeksi virus corona diperkirakan karena adanya perubahan virus. Bisa jadi pada awal penularan, sifatnya tidak terlalu ganas namun setelah masuk ke tubuh manusia, karakternya berubah dan makin menularkan ke orang lain.

"Jadi diduga ada mutasi yang sangat cepat dari virus ini. Mirip dengan H2N1 pada saat awal," sebutnya saat dijumpai di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (3/2/2020).

Skema penularan dan keganasan virus bergantung pada 3 hal, yakni host atau pembawa virus, virusnya sendiri, dan lingkungan. Interaksi ketiganya inilah yang mempengaruhi cepat atau tidaknya virus menyebar ke orang lain

"Kalau kumannya makin ganas, orangnya biasa saja, maka makin menularkan. Kumannya ganas tapi lingkungan tidak mendukung, orangnya tetap sehat. Kalau virus tidak ganas tapi daya tahan tubuh menurun, dan di lingkungan buruk, ya tetap bisa sakit," jelasnya.

"Jadi ketiga ini lah yang kami jaga. Karena perubahan strain virus terjadi dengan cepat dan bisa jadi adanya lingkungan yang mendukung perubahan itu," pungkasnya.



Simak Video "Mengenal 'Remdesivir' yang Digadang Jadi Antivirus Corona 2019-nCoV"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)