Senin, 03 Feb 2020 19:02 WIB

Wabah Virus Corona Baru Bisa Lebih Parah dari SARS dan MERS

Firdaus Anwar - detikHealth
Passengers arrive at Heathrow Airport in London after the last British Airways flight from China touched down in the UK following an announcement that the airline was suspending all flights to and from mainland China with immediate effect amid the escalating coronavirus crisis, Wednesday Jan. 29, 2020. Many governments have warned against unnecessary travel to China, as efforts to contain a new and deadly coronavirus virus intensify. (Steve Parsons/PA via AP) Virus corona baru disebut lebih mudah menyebar. (Foto ilustrasi: Steve Parsons/PA via AP)
Jakarta -

Wabah virus corona baru (2019-nCoV) bermula dari kota Wuhan, China, pada bulan Desember tahun lalu. Sejak saat itu jumlah kasus meningkat tajam dan hingga Senin (3/2/2020) sudah ada 24 negara mengonfirmasi kehadiran virus corona ini di wilayahnya.

Virus 2019-nCoV dikabarkan tak semematikan saudaranya, severe acute respiratory syndrome (SARS) dan Middle East respiratory syndrome (MERS). Namun demikian dengan jumlah kasus yang terus meningkat beberapa pemerhati kesehatan menyebut kondisi wabah 2019-nCoV bisa lebih parah dari SARS dan MERS.

Sebagai perbandingan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat pada wabah SARS tahun 2002-2003 ada 8.096 kasus dan 774 di antaranya meninggal. MERS dari tahun 2012-2019 ada 2.449 kasus dan 845 di antaranya meninggal.

Sementara itu jumlah kasus 2019-nCoV dalam waktu kurang dari dua bulan sejak pertama kali diidentifikasi sudah mencapai angka 14.557 kasus. Catatan terakhir WHO pada 2 Februari 2020 menyebut angka kematian karena 2019-nCoV mencapai 304 jiwa.

Influencer kesehatan dr Gia Pratama menyebut yang membuat virus corona ini begitu mengkhawatirkan adalah kemampuan penyebarannya yang tinggi. Meski tingkat kematiannya lebih rendah dari SARS dan MERS, bila jumlah kasus terus bertambah bukan tidak mungkin total korban juga akan tinggi.

"Ini tipe virus yang mudah menyebar. Mengalahkan bukan hanya SARS tapi banyak virus lain," kata dr Gia pada detikcom, Senin (3/2/2020).

"Makanya mortalitas rendah itu bukan kabar gembira kalau jumlah yang terinfeksinya sejumlah populasi Cina dan India, 3 milyar," pungkasnya.



Simak Video "Mengenal 'Remdesivir' yang Digadang Jadi Antivirus Corona 2019-nCoV"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)