Jumat, 07 Feb 2020 13:46 WIB

Petugas Kesehatan di China: Virus Corona Menyatukan Hati Kita

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Dokter: Ibu Hamil Mungkin Bisa Tularkan Corona Kepada Bayinya Petugas kesehatan yang sedang bekerja di tengah wabah virus corona. (Foto: DW (News))
Jakarta -

Semenjak penyebaran awal yang terjadi pada akhir tahun lalu di China, saat ini virus corona 2019-nCoV telah membunuh lebih dari 630 orang.

Wabah virus corona yang kian mengganas membuat petugas kesehatan di China kewalahan menangani pasien. Namun rasa kemanusiaan membuat mereka tetap semangat.

Dikutip dari BBC, seorang petugas kesehatan di salah satu rumah sakit terbesar di Hubei, bernama Yao membagikan kisahnya dalam berjuang melawan virus corona.

Awalnya sebelum wabah virus corona menyerang, ia telah merencanakan liburan ke Guangzhou bersama keluarganya untuk merayakan tahun baru Imlek. Namun hal itu jadi angan-angan saja sebab ia memutuskan untuk menjadi sukarelawan di Xiangyang.

"Memang benar kita hidup di dalam satu kehidupan, tetapi ada suara kuat yang keluar dari hati saya, yang mengatakan 'saya harus pergi'," kata Yao.

Rasa keraguan pun timbul di dalam dirinya, apakah dia akan tetap berangkat bersama keluarganya, atau dia harus menjadi sukarelawan.

"Aku berkata pada diriku sendiri, bersiaplah dan lindungi dirimu dengan baik," ucap Yao.

"Bahkan jika tidak ada jas pelindung, aku masih bisa menggunakan jas hujan. Jika tidak ada masker, aku bisa meminta tolong ke teman-teman di seluruh China untuk mengirimkan satu kepadaku. Pasti selalu ada jalan," lanjutnya.

Menurutnya pemerintah telah berupaya untuk menyediakan keperluan yang dibutuhkan, seperti pakaian pelindung, dan juga masker.

"Ini merupakan pekerjaan yang sulit dan sangat menyedihkan. Kita tidak punya waktu untuk memikirkan keselamatan kita sendiri," jelasnya.

"Kami juga harus merawat pasien dengan lembut, karena begitu banyak orang yang datang dengan keadaan panik, bahkan ada yang seperti mengalami gangguan jiwa," ujarnya.

Sistem shift pun diberlakukan untuk menangani lonjakan pasien yang masuk. Yao mengatakan setiap petugas kesehatan akan bekerja selama 10 jam dalam sehari, dan selama shift tidak boleh ada yang makan, minum, istirahat, maupun ke toilet.

"Di akhir shift, ketika melepas jas kita akan melihat pakaian kita benar-benar basah oleh keringat. Dahi, hidung, leher, dan wajah kami terdapat bekas luka yang mendalam akibat masker yang begitu ketat ketika digunakan," kata Yao.

"Banyak rekan saya yang tertidur di atas kursi setelah bekerja, karena mereka terlalu lelah untuk berjalan," jelasnya.

Meskipun mengalami kesulitan yang begitu luar biasa, Yao mengatakan bahwa tidak ada satu pun petugas kesehatan di rumah sakit tempatnya bekerja terinfeksi virus corona.

Yao mengatakan, begitu banyak masyarakat setempat yang mengirimkan bantuan berupa makanan dan kebutuhan sehari-hari lainnya sebagai bentuk rasa terimakasih.

"Saya merasa virus ini telah menyatukan hati kita," ucapnya.

Meski terancam mendapatkan teguran bila menyebarkan informasi, ia mengaku pemerintah China cukup cepat tanggap dalam menangani kasus ini, dibandingkan dengan negara lain.

"Di barat, lebih banyak membicarakan tentang kebebasan atau hak asasi manusia, tetapi saat ini di China, kita berbicara tentang masalah hidup atau mati," jelas Yao.

"Kami membicarakan apakah kami akan tetap bisa melihat matahari terbit di esok hari. Jadi yang bisa dilakukan oleh semua orang adalah bekerja sama dengan pemerintah dan mendukung petugas kesehatan," tuturnya.



Simak Video "Dugaan Lain Munculnya Virus Corona, Kebocoran Laboratorium Wuhan?"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)