Minggu, 09 Feb 2020 12:00 WIB

Alasan China Kremasi Jenazah yang Meninggal Akibat Virus Corona

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Virus corona jenis baru telah menyebar di Wuhan, China. Warga pun memakai masker untuk mengantisipasi penyeberan virus tersebut. Foto: AP Photo
Jakarta -

Rumah duka di Wuhan mengklaim dalam sehari mereka bisa mendapat sekitar 100 jenazah untuk dikremasi. Jenazah ini adalah korban meninggal terinfeksi virus corona yang dikumpulkan dari beberapa rumah sakit di Wuhan.

Sebelumnya, pemerintah China dalam hal ini Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) mengeluarkan peraturan uji coba baru yang melarang pemakaman korban virus corona jenis baru. Peraturan ini dikeluarkan pada Sabtu (1/2) lalu yang ditujukan untuk memperlambat penyebaran.

Komisi Kesehatan Nasional China bersama dengan Departemen Urusan Sipil dan Departemen Keamanan Publik mengeluarkan peraturan yang menyatakan semua korban yang meninggal karena virus harus dikremasi di fasilitas terdekat.

"Tidak ada upacara perpisahan atau kegiatan pemakaman lainnya yang melibatkan mayat," tulis NHC eperti dikutip dari Business Insider.

Peraturan ini diambil karena melihat kematian akibat 2019-nCoV meningkat terus tiap harinya. Disebutkan bahwa pemakaman dengan kremasi adalah salah satu cara untuk meminimalisir penyebaran virus.

Selain itu, ada beberapa langkah yang harus dilakukan petugas medis dalam menangani korban virus corona yang meninggal dunia.

1. Staf medis diminta untuk mendisinfeksi dan menutup jenazah. Dilarang membuka jenazah setelah disegel.

2. Staf medis akan mengeluarkan sertifikat kematian dan memberitahu keluarga. Pada titik ini, pemakaman lokal akan dihubungi,

3. Personel layanan pemakaman akan mengumpulkan mayat dan mengirimkannya ke fasilitas terkait dan langsung dikremasi. Sertifikat kremasi akan dikeluarkan kemudian.

Tidak ada yang diizinkan untuk mengunjungi pemakaman dan tempat kremasi selama proses ini. Kerabat, bagaimanapun, diizinkan untuk mengambil abu jenazah setelah kremasi telah selesai.



Simak Video "Mengenal 'Remdesivir' yang Digadang Jadi Antivirus Corona 2019-nCoV"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)