Rabu, 12 Feb 2020 04:33 WIB

Mengenal Antibiotik dan Golongannya, Jangan Sampai Keliru!

Tri Suharyati - detikHealth
Antibiotik Foto: Thinkstock/Mengenal Antibiotik dan Golongannya, Jangan Sampai Keliru!
Jakarta -

Antibiotik adalah kelompok obat yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan atau menghancurkan bakteri. Cara kerja antibiotik ini membunuh dan menghentikan tumbuhnya bakteri di dalam tubuh.

Biasanya, Antibiotik bisa didapatkan dengan resep dari dokter. Dokter akan menyesuaikan dosis dengan kondisi pasien, memberitahukan hal-hal yang harus diperhatikan sebelum dan saat menggunakan obat, serta efek samping yang dapat terjadi setelah menggunakan antibiotik.

Namun, ada beberapa antibiotik yang tidak bisa digunakan selama orang tersebut sedang kondisi hamil dan menyusui, sedang dalam pengobatan lain dan memilkim alergi terhadap antibiotik.

Antibiotik memiliki banyak golongan dan berfungsi untuk berbagai kondisi. Berikut golongan-golongan antibiotik dari berbagai sumber:

1. Penisilin

Penisilin digunakan untuk kondisi yang terkena infeksi bakteri, seperti infeksi streptococcus, meningitis, gonore, faringitis, dan untuk pencegahan endocarditis. Antibiotik ini juga baik digunakan untuk penederita gangguan ginjal disertai dengan anjuran dan pengawasan dokter.

Penisilin tersedia dalam berbagai bentuk, seperti kaplet, sirop kering, dan suntikan. Masing-masing bentuk obat dapat digunakan untuk kondisi yang berbeda. Jenis penisilin juga berbeda, seperti Amoxicillin, Ampicillin, Oxacillin, dan Penicillin G.

2. Sefalosforin

Antibitoik jenis ini bisa digunakan untuk pengidap infeksi tulang, otitis media, infeksi kulit, dan infeksi saluran kemih. Sesuai dengan anjuran dan takaran yang dokter berikan.

Sefalosforin memiliki efek samping, seperti sakit kepala, nyeri pada bagian dada bahkan syok. Sefaloaforin memiliki banyak jenis, seperti Cefadroxil, Cefuroxime, Cefixime, Cefotaxim, Cefotiam, Cefepime, dan Ceftarolin.

3. Aminoglikosida

Aminoglikosida adalah golongan antibiotik yang digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan bakteri aerob gram-negatif. Antibiotik ini cukup efektif dalam melawan bakteri seperti Mycobacterium Tuberculosis dan Staphylococcus. Pemakaian obat ini dapat dikombinasikan dengan antibiotik lainnya.

Cara kerja antibiotik ini adalah untuk menghambat sintesis protein pada bakteri, sehinga bakteri tidak bisa bertumbuh kembang. Cara mengonsumsi obat ini harus dengan anjuran dan pengawasan dokter, jika tidak akan menimbulkakan efek samping berupa gangguan kesadaran. Jenisnya pun beragam, antara lain Paromomycin, Tobramycin, Gentamicin, Amikacin, Kanamycin, dan Neomycin.

4. Tetrasiklin

Tetrasiklin adalah antibiotik yang digunakan untuk mengobati berbagai sejumlah infeksi yang disebabkan oleh bakteri, seperti infeksi pernafasan, infeksi pada alat kelamin atau infeksi menular seksual, infeksi yang dituakan dari hewan dan infeksi kulit, seperti jerawat.

Untuk mengonsumsi Tetrasiklin disarankan saat keadaan perut kosong atau dua jam sebelum makan. Mengonsusmi obat ini akan menimbulkan efek samping berupa mual dan muntah, diare, gatal pada kulit, nyeri pada beberapa bagian tubuh dan demam.

5. Makrolid

Antibiotik golongan ini bisa mencegah dan mengobati penyakit seperti infeksi saluran pernafasan, infeksi kulit, bronkitis, servisitis, penyakit Lyme, pemfigus, dan sinusitis. Makrolid sendiri tersedia dalam banyak bentuk, yakni tablet, kaplet, sirup kering, dan suntik. Cara kerjanya pun hampir menyerupai golongan lainnya untuk menghambat sitesis pada bakteri.

Obat ini juga memilki macam bentuk, seperti tablet, kaplet, sirop kering, dan suntik. Jenis-jenis makrolid antara lain Erythromycin, Azithromycin, dan Clarithromycin.

6. Quinolone

Golongan antibiotik ini memiliki bentuk tablet, kaplet, dan suntik. Quinilone dapat mengatasi masalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri, seperti infeksi saluran kemih, infeksi kulit, infeksi mata, infeksi telinga, sinusitis, bronkitis, pneumonia, radang panggul, hingga infeksi menular seksual seperti gonore.

Quinolone harus dikonsumsi dengan anjuran dokter agar tidak menimbulkan efek samping berupa gangguan pada sistem saraf pusat. Segera konsultasikan ke dokter jika efek tersebut terjadi.

7. Klorampenikol

Antibiotik ini berfungsi sama untuk menghambat sintesis protein agar bakteri tidak berkembang biak. Obat ini bisa digunakan untuk menyembuhkan demam tifus, paratifus, meningitis dan infeksi pada mata dan telinga.

Efek samping yang timbulkan pun cukup mengkhawatirkan, yaitu mual, muntah, diare, sakit kepala, perdarahan saluran cerna, gangguan penglihatan hingga kebutaan. Maka dari itu obat ini harus sesuai dengan anjuran dan pengawasan dokter.



Simak Video "Selamat Jalan dr Naek L Tobing, Seksolog Kawakan Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/nwy)