Sabtu, 15 Feb 2020 13:00 WIB

Terpopuler Sepekan: Benarkah 5 Alasan Ini Bikin Virus Corona 'Ogah' Masuk Indonesia?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Wabah virus corona telah memakan 80 orang korban tewas. Indonesia mengantisipasi masuknya virus corona dengan pemeriksaan penumpang di sejumlah bandara. Benarkah 5 alasan ini jadi penyebab virus corona ogah masuk indonesia? (Foto: Antara Foto)
Jakarta -

Sampai saat ini virus corona jenis baru yaitu COVID-19 belum masuk Indonesia. Data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga (12/2) menunjukkan sebanyak 75 spesimen dari total 77 dinyatakan negatif. Sedangkan dua di antaranya masih dalam pemeriksaan.

Fakta terkait belum masuknya COVID-19 ke Indonesia menimbulkan beragam spekulasi. Ada yang meragukan kemampuan deteksi, sampai muncul anggapan kemungkinan 'imunitas' Indonesia memang baik, dan kebal virus corona. Namun ada beberapa hal lain yang juga disebut sebagai faktor COVID-19 belum masuk Indonesia:

Berikut 5 alasan yang disebut sebagai penyebab virus corona baru belum masuk Indonesia dirangkum detikcom dari berbagai sumber:

1. Iklim tropis

Ahli mikrobiologi, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr R Fera Ibrahim, MSc, SpMK(K), PhD dalam wawancara dengan detikcom membenarkan bahwa virus corona tidak tahan panas. Ditunjang dengan pola hidup sehat yang bagus, risiko infeksi bisa ditekan.

2. Pengamanan ketat di bandara dan pelabuhan
Wakil Ketua DPR Komisi IX, Emanuel Melkiades Laka Lena, menilai penanganan dan pencegahan virus corona Wuhan di Indonesia jauh lebih baik dibanding wabah penyakit sebelumnya. Sedikitnya 135 pintu masuk negara telah dilengkapi thermal scanner sebagai deteksi awal.

"Di semua titik masuk negeri ini, itu dalam pengendalian Kemenkes dan pihak yang terkait. Keluar masuk Wuhan pun sudah dikontrol," katanya.

3. Kit deteksi standar WHO
Kemampuan Indonesia mendeteksi virus corona Wuhan sempat mencuat ketika sebuah artikel di Sydney Morning Herald memuat pernyataan Prof Amin Soebandrio, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, soal reagen yang tersedia.

Menurutnya, ada reagen yang mampu mendeteksi dengan lebih cepat, dan Indonesia sedang dalam tahap pengadaan. Namun ditegaskan, hal itu tidak berpengaruh pada kemampuan mendeteksi, hanya saja memang butuh waktu lebih lama.

"Seharusnya sih kalau ada corona virus kita bisa deteksi," tegasnya.

Namun sejak akhir Januari lalu, Indonesia sudah memiliki alat baru untuk mendeteksi novel coronavirus. Alat tersebut adalah Polymerase Chain Reaction (PCR), alat ini bisa langsung mendeteksi novel coronavirus selama satu hari.

"Mengapa harus dengan PCR? Karena kita harus yakin bahwa itu benar 2019-nCoV. Harus confirm secara genetik," kata Kepala Badan Litbangkes Kemenkes RI, dr Siswanto, MPH, DTM, saat ditemui di Ruang Rajawali Gedung Layanan Publik Badan Litbangkes, Selasa (11/2/2020).

4. Kewaspadaan tinggi

Direktur Jendral P2P Kemenkes, dr Anung Sugiantono menyebut pada 28 Januari 2020 ada 13 orang yang masuk kategori people under observation, 11 di antaranya negatif novel coronavirus (2019-nCoV). Artinya, upaya mewaspadai risiko penularan telah dilakukan semaksimal mungkin.

"Jadi kalau ditanya mengapa Indonesia masih belum ada? Kita sudah mengupayakan yang tadi people under observation, dalam konteks suspect itu kita amati, sampai sekarang alhamdulillah tidak ada novel coronavirus," jelas dr Anung.

5. Kekuatan doa

Manusia boleh berusaha, namun pada akhirnya kekuatan doa tetap tidak boleh diabaikan. Setidaknya itu tersirat dari pernyataan Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI, dr Bambang Wibowo, SpOG(K), MARS, mengomentari belum adanya kasus positif di Indonesia.

"Makanya kita doa itu penting, menjaga perilaku hidup sehat, kemudian doa lagi. Kalau ada apa-apa segera periksa, dan jangan percaya sama informasi yang tidak benar," ucap dr Bambang di Jakarta pada Rabu (29/1/2020).



Simak Video "WHO Kunjungi China Pekan Ini untuk Telusuri Asal COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)