Senin, 17 Feb 2020 19:28 WIB

Netizen Sebut Health Alert Card Ribet dan Tak Efektif, Ini Kata Kemenkes

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
BEIJING, CHINA - JANUARY 30: A sign instructs shoppers to wear protective masks at a mall on January 30, 2020 in Beijing, China. The number of cases of a deadly new coronavirus rose to over 7000 in mainland China Thursday as the country continued to lock down the city of Wuhan in an effort to contain the spread of the pneumonia-like disease which medicals experts have confirmed can be passed from human to human. In an unprecedented move, Chinese authorities put travel restrictions on the city which is the epicentre of the virus and neighbouring municipalities affecting tens of millions of people. The number of those who have died from the virus in China climbed to over 170 on Thursday, mostly in Hubei province, and cases have been reported in other countries including the United States, Canada, Australia, Japan, South Korea, and France. The World Health Organization has warned all governments to be on alert, and its emergency committee is to meet later on Thursday to decide whether to declare a global health emergency. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images) Petugas mendeteksi gejala infeksi virus corona dengan thermal gun (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Di lini masa media sosial, banyak netizen mengeluhkan soal pengisian Health Alert Card atau kartu kewaspadaan kesehatan yang dianggap ribet dan tidak efektif dalam mengontrol dan mengawasi persebaran virus corona COVID-19 di Indonesia. Tidak sedikit juga penumpang yang mengeluh pengisian HAC terkesan sia-sia karena setelah pengisian mereka tidak dicek kesehatannya.

"Hal yang perlu dipahami adalah Health Alert Card itu early warning system. Terus kemudian mereka tidak diperiksa itu bukan berati pas mereka datang kita ukur tensinya, tekanan darahnya, nggak," kata Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, dr Achmad Yurianto, saat temu media di Kantor Kemenkes RI, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (17/2/2020).

Perihal tidak dilakukannya pengecekan kesehatan, dr Yuri menyebut setiap yang datang dicek suhunya dengan alat thermal scanner dan thermal gun yang sudah tersedia di seluruh pintu masuk negara. Ketika ada satu orang, misalnya, yang menunjukkan gejala demam atau terlihat batuk, maka ia akan diarahkan ke pos kesehatan yang ada di bandara. Jika tidak ada gejala, pendatang melakukan pengisian HAC sebelum ke pos imigrasi.

"Ini yang seringkali mereka menerima kartu tidak dibaca atau saat dijelaskan, mereka tidak memperhatikan. HAC ini adalah early warning system terkait kemungkinan munculnya gejala keluhan yang mengarah ke COVID-19 sejak 14 hari selama kedatangannya di Indonesia," jelasnya.

Kartu kewaspadaan kesehatan diberikan kepada semua yang masuk ke Indonesia dengan harapan jika dalam 14 hari menunjukkan gejala COVID-19 seperti demam, sesak napas atau batuk untuk segera mengunjungi fasilitas kesehatan. Tujuan lain dari HAC adalah begitu fasilitas kesehatan menerima keluhan dari pemegang kartu, mereka akan menghubungi sistem peringatan dini melalui dinas kesehatan untuk mengaktifkan 100 rumah sakit rujukan.

"Kalau nggak ke faskes selama 14 hari sakit berarti tidak mematuhi apa yang kita sampaikan. HAC sekali lagi, membutuhkan kerjasama. Saya yakin kalau mereka sakit berat nggak ke faskes, berarti cari masalah," pungkas dr Yuri.



Simak Video "Kemenkes Semprit Video Viral Membuat Masker dari Tisu Basah"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)