Selasa, 18 Feb 2020 05:30 WIB

Round Up

Health Alert Card COVID-19, Penangkal Wabah yang Bikin Ribet di Bandara

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Airport personnel look at thermal scanners as they check on arriving passengers at Manilas international airport, Philippines, Thursday, Jan. 23, 2020. The government is closely monitoring arrival of passengers as a new coronavirus outbreak in Wuhan, China has infected hundreds and caused deaths in that area. (AP Photo/Aaron Favila) Gejala infeksi penyakit dipindai dengan thermal scanner (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Keluhan terkait pengisian Health Alert Card (HAC) di bandara bermunculan di media sosial. Bertujuan untuk menangkal wabah Card Virus Corona COVID-19, prosedur ini oleh sebagian kalangan dipertanyakan efektivitasnya dan dinilai hanya bikin tambah ribet.

Keluhan ini cukup masuk akal mengingat HAC diisi sendiri oleh penumpang dan hanya diperiksa sepintas oleh petugas. Kartu berwarna kuning itu lalu disimpan oleh penumpang dan wajib dibawa saat periksa jika dalam periode 14 hari berikutnya ada keluhan terkait virus corona.

Beberapa hal yang dipertanyakan oleh netizen:

1. Bagaimana kalau mengisinya asal-asalan?

Penumpang mengisi sendiri formulir dalam HAC masing-masing, yang antara lain mencakup isian tentang keluhan-keluhan yang dirasakan. Faktanya, petugas hanya memeriksa sepintas seolah-olah hanya formalitas. Toh apabila demam, bukankah ada thermal scanner yang akan mendeteksi peningkatan suhu tubuh?

Terkait hal ini, Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, dr Achmad Yurianto menjelaskan bahwa pengisian HAC memang ditujukan untuk penumpang yang pada saat tiba di bandara tidak mengalami gejala sakit seperti demam dan batuk. Bila ada gejala, maka akan langsung diarahkan ke pos kesehatan.

2. Kalau dalam 14 hari ada keluhan tetapi penumpang tidak melapor, apakah tetap akan terlacak?

Ada 2 kemungkinan ketika penumpang yang tidak mengalami gejala saat tiba di bandara. Pertama, memang tidak ada infeksi sama sekali. Kedua, ada infeksi tetapi masih dalam masa inkubasi sehingga tidak bergejala. Kemungkinan kedua inilah yang diantisipasi dengan HAC. Untuk berbagai infeksi penyakit, diasumsikan masa inkubasinya adalah 14 hari.

"Kalau nggak ke faskes selama 14 hari sakit berarti tidak mematuhi apa yang kita sampaikan. HAC sekali lagi, membutuhkan kerjasama. Saya yakin kalau mereka sakit berat nggak ke faskes, berarti cari masalah," kata dr Yuri.

Pengisian HAC sebenarnya juga memiliki fungsi lain, yakni sebagai sarana edukasi. Ketika mengisi HAC, diharapkan para penumpang terpapar informasi tentang wabah penyakit yang saat itu sedang diantisipasi, misalnya virus corona COVID-19. Namun dalam kenyataan, banyak penumpang ketika turun dari pesawat sudah terlalu letih untuk menyimak informasi tersebut.

Guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI), Prof dr Ascobat Gani, MPH, DrPH menilai pengisian HAC saja tidak akan efektif jika edukasi tidak dijalankan. Ia menyarankan, ada baiknya penumpang dikumpulkan terlebih dahulu sebelum mengisi HAC.

"Orang dari bandara kan langsung kabur gitu biasanya. Ini barangkali khusus yang dari Singapura ini, semua penumpang di pesawat sebelum masuk ke imigrasi itu dikumpulkan dulu lalu dijelaskan tentang COVID-19 dan berikan secarik kertas atau alert card," katanya dalam wawancara dengan detikcom.

Punya pendapat tentang pengisian HAC di bandara? Tinggalkan jejak di kolom komentar.



Simak Video "WHO Belum Bisa Prediksi Penyebaran COVID-19 ke Depannya"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)