Selasa, 18 Feb 2020 16:09 WIB

Sampai Diatur RUU Ketahanan Keluarga, Kenapa Muncul Perilaku Seks BDSM?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
silhouette of a woman tied up to a chair against a red background Kenapa muncul perilaku seks BDSM? (Foto: iStock)
Jakarta -

Beredar kabar, draf RUU Ketahanan Keluarga juga mengatur perilaku seks BDSM. Dalam RUU tersebut, pelaku bondage, dominance, sadism, dan masochism (BDSM) diwajibkan untuk rehabilitasi.

Dalam draf RUU Ketahanan Keluarga yang dikutip detikcom pada Selasa (18/2/2020), Pasal 74, pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib melaksanakan penanganan kerentanan keluarga. Penanganan yang dimaksud ialah upaya membantu dan mendukung keluarga agar memiliki kepentingan keluarga dalam menghadapi krisis keluarga.

Perilaku BDSM memang ditemui di sebagian pasangan. Beberapa pasangan ada yang melakukan karena sama-sama menyukai kegiatan tersebut. Namun hal apa sih sebenarnya yang mendasari orang ingin melakukan BDSM?

Mengutip Fatherly, setiap orang yang melakukan BDSM tentunya ingin melampiaskan kepuasan mereka. Orang tersebut baru merasa 'puas' jika melakukan hal-hal yang berkaitan dengan BDSM, atau seks kasar ini.

"Jika Anda dicakar, digigit, ditampar, tekanan darah dan detak jantung meningkat sebagai respon pada rasa sakit. Jika hal itu terjadi selama berhubungan seks, otak bisa mengartikannya sebagai kesenangan seksual," jelas Nicole Prause PhD,

Ia juga menjelaskan ada area tertentu di otak yang yang merespon rasa nyeri atau sakit, dan bagian tersebut sering tumpang tindih dengan respon dari rangsangan seksual.

"Tumpang tindih itu sedikit mempermainkan otak sehingga timbul kebingungan antara nyeri dan rasa puas saat kita mengalaminya di saat bersamaan," paparnya.



Simak Video "Dokter Boyke Sayangkan Kurangnya Pendidikan Seks untuk Milenial"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)