Rabu, 19 Feb 2020 10:59 WIB

Viral Jamu Tangkal Virus Corona COVID-19, Profesor Biokimia Angkat Bicara

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
BEIJING, CHINA - JANUARY 30: A sign instructs shoppers to wear protective masks at a mall on January 30, 2020 in Beijing, China. The number of cases of a deadly new coronavirus rose to over 7000 in mainland China Thursday as the country continued to lock down the city of Wuhan in an effort to contain the spread of the pneumonia-like disease which medicals experts have confirmed can be passed from human to human. In an unprecedented move, Chinese authorities put travel restrictions on the city which is the epicentre of the virus and neighbouring municipalities affecting tens of millions of people. The number of those who have died from the virus in China climbed to over 170 on Thursday, mostly in Hubei province, and cases have been reported in other countries including the United States, Canada, Australia, Japan, South Korea, and France. The World Health Organization has warned all governments to be on alert, and its emergency committee is to meet later on Thursday to decide whether to declare a global health emergency. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images) Kandungan kurkumin dalam jamu disebut-sebut bisa menangkal infeksi virus corona COVID-19 (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Hingga saat ini belum ada kasus yang terkonfirmasi positif virus corona COVID-19. Banyak faktor yang disebut menjadi penyebab belum masuknya COVID-19 ke Indonesia. Bahkan, salah satunya adalah kebiasaan mengkonsumsi jamu. Memangnya benar ya seperti itu?

Prof Chairul A Nidom, Ketua Tim Riset CoV dan Formulasi Vaksin dari Professor Nidom Foundation Surabaya menjelaskan, ada dua macam virus corona, yaitu low pathogenic dan high pathogenic.

Menurutnya, kondisi high pathogenic reseptornya ada di paru, dan hal ini yang dapat berakibat fatal pada manusia. Untuk menekan risiko fatal terjadi, kurkumin bisa menjadi solusinya.

"Kurkumin itu mempunyai fungsi menekan badai sitokin, yang tentunya kita bisa berharap bahwa paru-paru tidak begitu rusak atau bisa recovery secepatnya," jelasnya saat dihubungi detikcom, Selasa (18/2/2020).

Ia juga menjelaskan pasien di Wuhan yang terinfeksi COVID-19 mengalami badai sitokin. Namun penggunaan formulasi ini perlu diteliti lebih lanjut mengenai berapa banyak kadar jahe, temulawak, kunyit, atau pun bahan lainnya yang termasuk dalam kurkumin.

"Kandungan masing-masing dari jahe, temulawak, itu kan berbeda," lanjut Guru Besar Biokimia dan Biologi Molekuler Universitas Airlangga Surabaya tersebut.

Namun ia mengimbau masyarakat tidak perlu menunggu. Lebih baik untuk membiasakan konsumsi berbagai macam bahan kurkumin dengan memasukkan ke dalam makanan, atau minuman.

"Sekarang kita sedang formulasikan kandungannya, tetapi masyarakat tidak perlu menunggu, apa (makanan atau minuman mengandung kurkumin) yang biasa diminum atau biasa dikonsumsi lanjutkan saja," tambahnya.



Simak Video "Resep dan Cara Meracik Jamu Kunyit Asam"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)