Rabu, 19 Feb 2020 11:40 WIB

Seperti Dialami Ashraf, Apa Pria Paling Rentan Kena Serangan Jantung?

Akfa Nasrulhak - detikHealth
Ashraf Sinclair Foto: Instagram @ashrafsinclair
Jakarta -

Aktor Ashraf Sinclair meninggal di usia 40 tahun pada Selasa (18/2) pagi, diduga karena serangan jantung. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2012 menunjukkan 17,5 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit kardiovaskuler. Lebih dari tiga perempat kematian akibat penyakit kardiovaskuler terjadi di negara berkembang yang berpenghasilan rendah sampai sedang, salah satunya Indonesia.

Faktanya, serangan jantung bisa terjadi kepada siapa saja, baik tua, muda, pria dan wanita. Namun, dikutip dari Harvard Health Publishing, 45% serangan jantung merupakan Silent Myocardial Infarction (SMI) atau serangan jantung diam-diam yang menyerang pria lebih banyak daripada wanita.

Senada, Medical Marketing Manager Kalbe Nutritionals dr Adeline Devita mengatakan pria memiliki risiko lebih tinggi terkena serangan jantung daripada wanita pada usia yang lebih muda. Hal tersebut dikarenakan pengaruh faktor hormon pada wanita. Perempuan 10 tahun lebih lambat terkena serangan jantung dibanding pria.

"Namun setelah menopause, risiko wanita terkena serangan jantung sama dengan pria. Selain faktor jenis kelamin, usia seseorang juga merupakan faktor risiko yang tak bisa diubah. Seseorang akan lebih tinggi terkena risiko penyakit jantung seiring bertambahnya usia," jelas dr Adeline kepada detikHealh baru-baru ini.

dr Adeline menjelaskan, serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke jantung terhambat. Sumbatan umumnya terjadi akibat penumpukan lemak kolesterol, atau material lain, yang membentuk plak di pembuluh darah dan kemudian Plak tersebut dapat pecah lalu terbawa aliran darah, kemudian memicu sumbatan di tempat lain.

"Terhambatnya aliran darah ke jantung juga menghambat suplai oksigen yang akhirnya memicu kerusakan sel-sel otot jantung," lanjutnya.

Untuk mencegah terjadinya serangan jantung, lanjut dr Adeline, sebaiknya melakukan pencegahan dengan cara menjaga pola makan yang tepat. Misalnya dengan mengonsumsi makanan tinggi serat dan menghindari makanan tinggi kolesterol dan lemak jenuh. Selain itu, cek kadar kolesterol secara rutin agar dapat terkontrol sehingga lebih berhati-hati lagi dalam menjaga pola hidup sehat.

"Kadar kolesterol darah sebaiknya diperiksa setiap 5 tahun setelah seseorang berusia 20 tahun. Namun, jika kadar kolesterol dalam tubuh melebihi 200 mg/dL, maka cek kolesterol sebaiknya dilakukan setiap 3 bulan sampai kadarnya normal kembali," jelas dr Adeline.

Jika kadar kolesterol telah melebihi batas normal, sebaiknya konsultasi kepada dokter ahli sambil disertai dengan mengonsumsi Plant Stanol Ester (PSE) yang biasanya terdapat pada biji gandum, sayuran, dan buah-buahan.

"PSE dapat menghambat penyerapan kolesterol dari makanan dengan cara mengikat garam empedu pada saluran pencernaan karena strukturnya mirip kolesterol, sehingga kolesterol yang dikonsumsi dapat dikurangi," jelasnya.

Menurut dr Adeline, cara menurunkan kolesterol tinggi sebenarnya cukup beragam. Mulai dari mengonsumsi obat-obatan, hingga cara yang alami seperti rajin berolahraga, menjaga berat badan sesuai BMI, serta hindari merokok dan konsumsi alkohol. Selain itu, kurangi konsumsi lemak jenuh serta meningkatkan konsumsi makanan sehat yang mengandung serat. Serat dapat menghambat penyerapan lemak jenuh atau jenis lemak jahat lainnya yang berbahaya bagi tubuh.

Jika memang sudah mengonsumsi makanan berlemak, maka dapat dibantu dengan mengonsumsi Nutrive Benecol secara rutin 2 kali sehari segera setelah makan. Nutrive Benecol dengan kandungan Plant Stanol Ester (PSE) dapat membantu turunkan kolesterol, serta dengan diet rendah lemak dan kolesterol.



Simak Video " Aktif Olahraga, Ashraf Sinclair Kantongi Sertifikat Pelatih Crossfit"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/up)