Rabu, 26 Feb 2020 05:30 WIB

Round Up

RI Tegaskan WN Jepang Negatif COVID-19 Tapi Positif SARS-CoV-2

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
BEIJING, CHINA - JANUARY 30: A sign instructs shoppers to wear protective masks at a mall on January 30, 2020 in Beijing, China. The number of cases of a deadly new coronavirus rose to over 7000 in mainland China Thursday as the country continued to lock down the city of Wuhan in an effort to contain the spread of the pneumonia-like disease which medicals experts have confirmed can be passed from human to human. In an unprecedented move, Chinese authorities put travel restrictions on the city which is the epicentre of the virus and neighbouring municipalities affecting tens of millions of people. The number of those who have died from the virus in China climbed to over 170 on Thursday, mostly in Hubei province, and cases have been reported in other countries including the United States, Canada, Australia, Japan, South Korea, and France. The World Health Organization has warned all governments to be on alert, and its emergency committee is to meet later on Thursday to decide whether to declare a global health emergency. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images) WN Jepang negatif COVID-19 tetapi positif SARS-CoV-2 (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Awalnya, banyak yang menyangka ada salah sebut saat pejabat Kementerian Kesehatan berbicara soal WN Jepang yang terinfeksi virus corona sepulang dari Indonesia. Dikatakan, WN Jepang tersebut tidak terinfeksi COVID-19 tetapi positif SARS-CoV-2.

Membingungkan, karena COVID-19 adalah nama resmi yang ditetapkan WHO untuk penyakit yang disebabkan oleh virus corona baru yang mewabah di Wuhan. Sedangkan SARS-CoV-2, adalah nama resmi virus corona yang menyebabkan COVID-19.

Namun dalam temu media di Kementerian Kesehatan RI, Selasa (25/2/2020), Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr Achmad Yurianto, kembali mempertegas pernyaannya. Kembali ia tegaskan, WN Jepang yang dimaksud negatif COVID-19 dan positif SARS-CoV-2.

"Ada hal yang mendasar yang kami terima dari para pakar. SARS-CoV2 ini penyebab COVID-19 seperti yang ditulis oleh WHO, tapi para pendapat lainnya mengatakan ini (SARS-CoV2) adalah bentuk mutasi dari COVID-19 yang ditengarai menjadi jinak dengan tanda-tanda minimal," jelas dr Yuri.

Mutasi yang dialami virus penyebab COVID-19, menurut dr Yuri menyebabkan beberapa pasien yang terinfeksi hanya menunjukkan gejala minimal. Bahkan ada yang tidak bergejala, atau asimptomatis.

Ditegaskan, hasil koordinasi dengan Dinas Kesehatan Bali tidak menunjukkan adanya peningkatan pneumonia yang dicurigai kontak dengan pasien. Beberapa saat lalu, Kemenkes mendapat laporan dari Jepang keluarga yang bersama dengan pasien tidak mengalami keluhan.

"Kalau mau dibedakan silahkan dibedakan tapi kami punya referensi. Kami tidak akan memperdebatkan nama tetapi survailans kita lakukan, tracing dilakukan. Itu yang lebih penting,"



Simak Video "Respons Tubuh Terhadap Infeksi Virus Corona COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)