Rabu, 26 Feb 2020 18:53 WIB

Rp 72 Miliar untuk 'Influencer' Vs Anggaran untuk Menemukan Virus Corona

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Sosialisasi dan edukasi pencegahan virus corona dilakukan di Stasiun Gambir, Jumat, (31/1/2020). Berikut foto-fotonya. Hingga saat ini belum ada satupun kasus positif virus corona COVID-19 terkonfirmasi di Indonesia (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Rencana pemerintah menganggarkan Rp 72 miliar untuk menyelamatkan pariwisata dari dampak virus corona menuai pro dan kontra. Dana tersebut antara lain untuk menyewa jasa influencer.

Di satu sisi, sektor pariwisata memang perlu diselamatkan setelah babak belur terdampak wabah virus corona. Namun di sisi lain, Indonesia belum menemukan satupun kasus positif virus corona COVID-19.

Menurut Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Prof Ascobat Gani, memperkuat skrining untuk menemukan kasus virus corona di 135 titik masuk Indonesia tidak kalah pentingnya dibanding memperkuat pariwisata.

"Surveilans dulu deh kalau ada kasus cepat kita temukan, kita isolasi supaya tidak menyebar. Fokus ke sana dulu," kata Prof Ascobat kepada detikcom, Rabu (26/2/2020).

Namun Prof Ascobat mengingatkan bahwa menemukan kasus dan menyelamatkan pariwisata adalah dua hal yang berbeda. Pencarian kasus dananya dari Kementerian Kesehatan, sedangkan untuk pariwisata lebih bersifat investasi.

Pendapat senada juga disampaikan pakar biologi molekuler dari Eijkman Institute, Prof Amin Soebandrio. Menurutnya, memperkuat pariwisata maupun surveilans sama-sama penting dan harus dilakukan.

"Di satu sisi surveilans penting untuk meyakinkan internasional termasuk para wisatawan bahwa Indonesia memang aman," jelasnya.



Simak Video "Gejala Infeksi Corona COVID-19 Tak Biasa yang Perlu Diwaspadai"
[Gambas:Video 20detik]
(up/kna)