Selasa, 10 Mar 2020 08:35 WIB

Kenapa Virus Corona Memicu 'Panic Buying'? Ini Alasannya Menurut Psikolog

Achmad Reyhan Dwian - detikHealth
Warga Singapura borong makanan di supermarket Kata psikolog ini alasan mengapa virus corona memicu 'panic buying'. (Foto: Straits Times Singapura)
Jakarta -

Begitu banyak kepanikan yang terjadi akibat wabah virus corona COVID-19, mulai dari memborong masker, hand sanitizer, sembako hingga tisu toilet. Tak hanya di Indonesia, kepanikan ini pun terjadi di berbagai negara lainnya.

Mengutip dari CNN, psikolog klinis dari University of British Columbia, Steven Taylor mengatakan ada 3 alasan mengapa seseorang bisa melakukan 'panic buying' saat menghadapi suatu ancaman global.

1. Merasa penanganan tak sebanding dengan ancaman

Dibandingkan dengan pandemi H1N1, respon global terhadap COVID-19 terlalu berlebihan sehingga menimbulkan kepanikan yang meluas di berbagai negara.

"Di satu sisi dapat dimengerti, tetapi di sisi lain itu berlebihan," kata Taylor.

Menurutnya COVID-19 merupakan penyakit jenis baru dan masih banyak yang belum diketahui tentang virus ini sehingga membuat orang menjadi takut. Ketika seseorang mendengar adanya suatu ancaman serius, tetapi bisa dicegah dengan hal yang biasa itu akan menimbulkan suatu konflik batin di dalam dirinya.

"Ketika orang diberitahu ada sesuatu yang berbahaya akan datang, tetapi yang perlu dilakukan hanyalah mencuci tangan, tentu itu tampak tidak sebanding dengan ancaman itu," ucap Taylor.

"Bahaya khusus membutuhkan tindakan pencegahan khusus," lanjutnya.

2. Panic buying bisa menular

Berbondong-bondong pergi ke supermarket untuk membeli berbagai macam kebutuhan dan persediaan agar bisa bertahan hidup selama berhari-hari di dalam rumah, tentu akan menimbulkan efek panik kepada orang-orang di sekitarnya.

"Orang-orang itu adalah makhluk sosial. Kami saling mencari isyarat apa saja yang aman dan berbahaya, dan ketika kamu melihat seseorang di toko sedang melakukan panic buying, itu dapat menyebabkan efek seperti rasa takut yang menular," jelas Taylor.

3. Ingin mempersiapkan diri

Mantan Presiden American Psychological Association, Frank Farley mengatakan COVID-19 telah menciptakan suatu kecemasan berlebih sehingga setiap orang merasa perlu bertahan hidup di dalam rumah agar bisa selamat dari penyakit ini.

"COVID-19 sedang melahirkan semacam psikologi survivalist, di mana kita harus hidup sebanyak mungkin di rumah dan dengan begitu kita harus menyimpan berbagai macam persediaan," kata Farley.



Simak Video "Asa Vaksinasi di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)