Rabu, 11 Mar 2020 14:20 WIB

Jantung Jadi Penyakit Pembunuh Pertama di Kota Malang

Faidah Umu Sofuroh - detikHealth
penyakit jantung Foto: shutterstock
Jakarta -

Penyakit jantung dan stroke masih menjadi penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian di Indonesia, tak terkecuali Kota Malang. Menurut Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih, penyakit yang paling mematikan khususnya di Kota Malang telah bergeser dari penyakit infeksi ke non-infeksi.

"Secara umum sekarang bergeser dari penyakit infeksi ke yang non infeksi. Paling tinggi sekarang memang jantung, kemudian stroke, diabetes, hipertensi sekarang sudah mulai tinggi," ucapnya kepada detikHealth, Rabu (11/3/2020).

Jantung Jadi Penyakit Pembunuh Pertama di MalangFoto: Faidah Umu Sofuroh

Menurutnya risiko penyakit-penyakit tersebut berkaitan erat dengan gaya hidup masyarakatnya. Melalui JKN, lanjutnya, ada program-program promotif dan preventif yang kemudian akan membantu mengurangi risiko penyakit-penyakit tersebut.

"Lewat JKN ini ada program-program yang promotif preventif kemudian penanggulangan prolanis itu akan membantu supaya risiko untuk menjadi penyakit itu bisa dikurangi. Tapi secara umum di Malang itu penyakit tidak menular (PTM) yang lebih banyak menyebabkan kematian, tadi sudah disebutkan ada jantung kemudian stroke, hipertensi, diabetes, kemudian selanjutnya itu ada kanker dan gagal ginjal," tambahnya.

Selain melakukan mitigasi melalui edukasi dan sosialisasi, JKN juga meng-cover semua PTM. Meskipun sudah di-cover, ia melihat masih harus ada perbaikan-perbaikan khususnya dalam segi pelayanan.

"Seterusnya si sifatnya dinamis masih perlu ada perbaikan-perbaikan ini kita kan lagi mau membahas perbaikan berkaitan dengan pelayanan kalo kami sangat concern pelayanan di FKTP, yaitu di sentuhan pertama ke masyarakat," pungkasnya.

Menurutnya dengan adanya program digitalisasi pelayanan kesehatan melalui mobile JKN, hal itu akan memudahkan masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan. Contohnya dengan adanya antrean online, kini masyarakat tak perlu lagi lama mengantre di faskes, cukup dengan membuka mobile JKN maka peserta akan tahu nomor antrean dan bisa datang mendekati pemanggilan nomor antreannya.

"Intervensi digital ini sangat membantu peserta JKN untuk dapat pelayanan yang lebih baik mengatasi semua problem penumpukan waktu antrean di daftar tunggu. Saya pikir ini bagus untuk dikembangkan dalam rangka membantu masyarakat peserta JKN," tandasnya.



Simak Video "Banyak Jalan Menuju Sehat Hanya Dari Rumah"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/mpr)