Rabu, 18 Mar 2020 14:17 WIB

Hati-hati! Banyak Info Sesat Soal Kaitan Ibuprofen dan Virus Corona

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Close-up thermometer. Mother measuring temperature of her ill kid. Sick child with high fever laying in bed and mother holding thermometer. Hand on forehead. Hati-hati banyak info sesat soal kaitan ibuprofen dan corona. (Foto ilustrasi: iStock)
Jakarta -

Setelah Menteri Kesehatan Prancis menyebut bahwa penggunaan ibuprofen dianggap memperparah kondisi bagi penderita gejala virus corona, telah banyak beredar kisah di media sosial yang mengklaim keterkaitan antara penggunaan ibuprofen dan virus corona. Bersamaan dengan saran dari para pakar, di medsos juga banyak yang mengunggah berita palsu dan mengubah fakta.

Parasetamol dan ibuprofen diketahui sebagai obat yang mampu menurunkan demam dan meringankan gejala flu. Namun pakar menyebut ibuprofen dan obat antiinflamasi tidak cocok untuk semua orang dan memang memiliki efek samping khususnya bagi orang dengan masalah asma, jantung, dan peredaran darah.

Situs web National Health Security atau NHS sebelumnya merekomendasikan parasetamol dan ibuprofen sebagai pereda gejala virus corona. Namun karena anjuran dari WHO, mereka mengubah sarannya meski saat ini tidak ada bukti kuat bahwa ibuprofen dapat memperburuk gejala virus corona.

Meski sampai saat ini masih belum diketahui apakah ibuprofen menimbulkan efek samping termasuk memperparah kondisi bagi pasien virus corona, telah banyak kesalahan informasi yang disebarkan di media sosial dan pesan online. Salah satunya berbunyi:

"Ada empat anak muda yang sedang dirawat di UGD di Cork tanpa penyakit penyerta. Mereka semua mengonsumsi obat anti-inflamasi dan terlihat telah menyebabkan kondisi mereka makin parah," tulis pesan yang beredar.

"Universitas Wina telah mengirim memo peringatan kepada orang-orang dengan gejala coronavirus untuk tidak menggunakan ibuprofen, "karena telah ditemukan bahwa ini meningkatkan kecepatan reproduksi coronavirus Covid-19 dalam tubuh dan ini adalah alasan mengapa orang di Italia telah mencapai tahap buruk saat ini dan adanya penyebaran cepat," unggah akun lainnya.

Berdasarkan penelusuran dari tim cek fakta oleh BBC Monitoring, semua klaim tersebut adalah pesan palsu. The Infectious Diseases Society of Ireland mengatakan pesan yang beredar tentang pasien virus corona di Cork tidak benar dan mereka meminta siapa saja yang menerimanya untuk menghapus dan mengabaikannya.

Rumah Sakit Universitas Toulouse juga memperingatkan bahwa informasi yang tidak akurat beredar di jejaring sosial, mengatakan tidak akan membahas perawatan pasien karena kerahasiaan medis.

Secara umum, jenis pesan yang beredar mengklaim dirinya adalah seorang tenaga medis yang sedang merawat pasien. Kurangnya konsensus yang jelas tentang masalah dari profesi medis telah menyebabkan pesan dan rumor menyebar secara online, dan klaim laboratorium Universitas Wina yang disebutkan sebelumnya juga telah dibantah.

Postingan yang beredar di Twitter dan Facebook juga Instagram serta pesan Whatsapp tampaknya telah diedit oleh pengguna dan rata-rata yang mengunggah mengklaim memiliki kerabat yang berprofesi sebagai dokter. Beberapa posting bahkan mengklaim virus corona tumbuh subur di tubuh mereka yang mengonsumsi ibuprofen. Hingga kini, perlu ditekankan bahwa belum ada penelitian yang jelas mengenai hubungan keduanya.

Meski demikian, sebagai catatan, ada beberapa kasus yang menunjukkan penggunaan ibuprofen terkait dengan lebih banyak komplikasi. Beberapa ahli percaya bahwa sifat anti-inflamasi ibuprofen dapat memengaruhi respons kekebalan tubuh.

"Ada banyak penelitian yang menyebut penggunaan ibuprofen selama infeksi pernapasan dapat mengakibatkan memburuknya penyakit atau komplikasi lainnya," kata ahli farmasi dari University of Reading, Prof Parastou Donyai.



Simak Video "Mutasi Virus Corona, Penelitan, dan Kelompoknya di Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)